Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif

Posted: 18 Juni 2011 in Uncategorized

A. Pengertian Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai teori/pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Teori dan pendekatan tersebut, antara lain belajar aktif, belajar kreatif, pendekatan konstruktif, serta belajar kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap teori/pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas serta menghasilkan sesuatu sebagai produk yang bersumber dari pemahaman siswa terhadap konsep yang sedang dikaji.
1. Belajar Aktif
Belajar hanya terjadi jika siswa aktif, dalam arti siswa terlibat optimal secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran. Siswa tidak menjadi penonton yang selalu menerima pertunjukkan yang disuguhkan oleh guru, tetapi menjdi pelaku utama dalam pembelajaran. Tanpa keaktifan siswa, “belajar” tidak akan terjadi dalam diri siswa. Guru mungkin sudah menyampaikan berbagai informasi, namun jika siswa tidak aktif, informasi atau pengetahuan yang disampaikan tersebut akan berlalu tanpa bekas. Keterlibatan secara emosional akan memungkinkan siswa menyadari “makna” dari apa yang dipelajarinya. Siswa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan jika guru mampu menyediakan kondisi belajar yang kondusif. Keaktifan siswa dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik yang dipicu dengan mengerjakan sesuatu, maupun yang dipicu oleh dialog dengan orang lain atau dengan diri sendiri.
2. Pendekatan Konstruktivisme
Asumsi dasar yang melandasi pendekatan ini adalah pembelajaran harus menekankan pada “pembentukan makna” oleh siswa karena belajar mempersyaratkan self regulation and the building of conceptual structure through reflection and abstraction. Ini berarti bahwa siswa harus mampu mengonseptualisasikan pengetahuan melalui refleksi dan abstraksi. Hal ini hanya mungkin terjadi bila siswa mendapat kesempatan yang luas atau memadai untuk menjelajahi lingkungan sumber belajar yang memungkinkan terjadinya interaksi. Oleh karena pendekatan ini mengahargai kemampuan siswa dalam membentuk makna maka siswa juga mendapat kesempatan yang luas untuk mempresentasikan atau menampilkan pemahamannya dengan berbagai cara (multiple representation of understanding).

3. Belajar Kooperatif dan Kolaboratif
Jika Anda mengingat-ingat kembali pengalaman Anda ketika menjadi siswa atau bahkan ketika sudah menjadi guru, Anda tentu ingat bahwa kerja kelompok pernah Anda alami atau pernah anda rancang untuk para siswa Anda. Kerja kelompok memang merupakan salah satu modus interaksi, yang jika dirancang dan dilaksanakan dengan benar akan memungkinkan terbentuknya kebiasaan bekerja sama, berbagi tanggung jawab, saling menghargai, di samping tentu saja tercapainya tujuan pembelajaran, seperti terpecahnya masalah yang diberikan. Baik belajar kooperatif maupun belajar secara kolaboratif mempunyai dampak pengiring yang hampir sama dalam hal membentuk kemampuan bekerja sama, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Di samping itu, bekerja dalam kelompok akan memungkinkan para siswa berbagi informasi dan pengalaman, meningkatkan keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi antarpribadi, serta mengembangkan kepekaan. Perbedaan antara keduanya adalah pada struktur kegiatan. Belajar kooperatif menuntut kerja kelompok dalam bentuk tatap muka dengan kegiatan yang lebih terstruktur, seperti diskusi kelompok kecil, sedangkan belajar kolaboratif lebih leluasa karena kelompok dapat mengerjakan tugas secara lebih independent, misalnya menyelesaikan suatu tugas di luar waktu tatap muka, kemudian hasilnya dilaporkan dalam pertemuan tatap muka. Dua faktor yang sangat perlu diperhatikan guru dalam merancang belajar kooperatif dan kolaboratif adalah jenis tugas dan pengelompokan. Jenis tugas haruslah memungkinkan siswa berbagi pendapat, tanggung jawab, informasi dan sejenisnya, sedangkan sistem pengelompokan haruslah mempertimbangkan karakteristik siswa serta tujuan kegiatan. Dengan demikian, tugas-tugas yang diberikan harus bersifat terbuka sehingga setiap anggota kelompok dapat menyumbang pikiran untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan perkataan lain, tugas yang diberikan hanya mungkin dikerjakan oleh kelompok, dan tidak mungkin diselesaikan secara individual.

4. Belajar Kreatif
Untuk menjadi kreatif, seperangkat persyaratan harus dipenuhi. Erwin Segal (dalam Black, 2003) menyatakan bahwa untuk menjadi kreatif, seseorang harus mempunyai komitmen yang tinggi, kemampuan bekerja keras, bersemangat, dan percaya diri. Dalam situasi kelas, kreativitas dapat dikembangkan melalui kegiatan curah pendapat, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tanpa rasa takut dan mempercayai atau meyakinkan pendapatnya, serta mengajukan pertanyaan terbuka. Semua ini akan mungkin terjadi jika suasana kelas kondusif, serta guru dan siswa bebas melakukan eksplorasi atas topik kurikulum. Kreativitas dalam bidang akademik hanya mungkin ditumbuhkan jika guru mampu memosisikan diri sebagai fasilitator dengan merancang tugas-tugas yang menuntut siswa menghasilkan sesuatu yang baru (orisinal, asli), memilih dan merancang tugas sendiri, melakukan independent study atau melakukan satu percobaan/eksperimen (Torrance&Golf).
Penerapan keempat pedekatan/teori tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran kreatif dan produktif, yang secara eksplisit dirancang sebagai berikut.
1) Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran diupayakan atau difasilitasi dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk menjelajahi berbagai sumber yang relevan dengan topik/konsep/masalah yang sedang dikaji. Eksplorasi ini akan memungkinkan mereka melakukan interaksi dengan lingkungan dan pengalamannya sendiri, sebagai media untuk mengostruksi pengetahuan.
2) Siswa didorong untuk menemukan atau mengontruksi sendiri konsep yang sedang dikaji, melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi atau percobaan. Dengan cara ini, konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa, tetapi dibentuk sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang terjadi ketika siswa melakukan eksplorasi dan interpretasi. Dengan perkataan lain, siswa didorong untuk membangun makna dari pengalamannya sehingga pemahamannya tentang fenomena yang sedang dikaji menjadi meningkat. Di samping itu, munculnya berbagai sudut pandang siswa terhadap topik/konsep/masalah yang sama sangat dihargai, dan siswa didorong untuk mempertahankan sudut pandangnya dengan argumentasi yang relevan. Hal ini merupakan salah satu realisasi hakikat konstruktivisme dalam pembelajaran.
3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan rekreasi. Di samping itu, siswa juga mendapat kesempatan untuk membantu temannya dalam menyelesaikan satu tugas. Kebersamaan, baik dalam eksplorasi, interpretasi, serta rekreasi dan pemajangan hasil merupakan arena interaksi yang memperkaya pengalaman.
4) Oleh karena pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri (Erwin Segal, dalam Black, 2003) maka dalam konteks pembelajaran, kreativitas dapat ditumbuhkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkaji dan mengeksplorasi topik-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir keras, kemudian mengejar pendapat siswa tentang ide-ide besar dari berbagai perspektif. Guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan pemehamannya tentang topik-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri (Black, 2003).
Dengan mengacu kepada karakteristik tersebut pembelajaran kreatif dan produktif diasumsikan akan mampu memotivasi siswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya secara kreatif. Oleh karena karakteristik yang seperti itu, model pembelajaran kreatif dan produktif ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai bidang studi dengan topik-topik yang bersifat terbuka, baik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret.

B. Sosok Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Sosok model mengacu kepada komponen-komponen sebuah model pembelajaran, yang dasarnya terdiri dari tujuan, materi, kegiatan, dan evalusi. Deskripsi sosok model ini juga bertitik tolak dari keempat komponen tersebut.
1. Tujuan (dampak instruksional dan dampak pengiring)
Dampak instruksional yang dapat dicapai melalui model pembelajaran ini, antara lain:
a. pemahaman terhadap suatu nilai, konsep atau masalah tertentu;
b. kemampuan menerapkan konsep atau memecahkan masalah;
c. kemampuan mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.
Dari segi dampak pengiring (nurturant effects), melalui model pembelajaran kreatif dan produktif diharapkan dapat dibentuk kemampuan berpikir kritis, bertanggung jawab, serta bekerja sama, yang semuanya merupakan tujuan jangka panjang. Tentu saja dampak pengiring hanya mungkin terbentuk jika kesempatan untuk menghayati berbagai kemampuan tersebut cukup memadai. Artinya, model pembelajaran ini diterapkan secara benar dan memadai.

2. Materi
Materi yang sesuai disajikan dengan model ini adalah materi yang menuntut pemahaman tinggi terhadap nilai, konsep atau masalah aktual di masyarakat; serta keterampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi.
3. Kegiatan Pembelajaran
Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran kreatif dan produktif dibagi menjadi empat langkah, yaitu; orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar Diagram 4 Langkah Pokok Pembelajaran

Dari bagan di atas, langkah pembelajaran selalu dimulai dengan orientasi sebagai kegiatan pendahuluan, diikuti oleh eksplorasi yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar melalui berbagai cara. Hasil eksplorasi, kemuadian diinterpretasikan untuk memantapkan pemahaman. Akhirnya dalam tahap re-kreasi, para siswa dapat menciptakan sesuatu dari pemahamannya. Hasil re-kreasi ini dapat dipajang, didemonstrasikan, diterbitkan atau dimanfaatkan oleh siswa, bahkan oleh masyarakat luas. Hasil re-kreasi dapat dijasikan masukan untuk kegiatan berikutnya, yang dapat dikomunikasikan pada rahap orientasi. Setiap langkah dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para guru, dengan berpegang pada hakikat setiap langkah. Deskripsi singkat setiap langkah adalah sebagai berikut.

a. Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan orientasi untuk mengomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, serta hasil akhir yang diharapkan dari siswa, serta penilaian yang akan diterapkan. Pada kesempatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tentang langkah atau cara kerja serta hasil akhir yang diharapkan, demikian juga dengan penilaian. Negosiasi tentang aspek-aspek tersebut dapat terjadi antara guru dan siswa, namun pada akhir orientasi diharapkan sudah terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.
b. Eksplorasi
Pada tahap ini, siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah atau konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukkan, melakukan percobaan, browsing melalui internet, dan sebagainya. Dengan demikian, para siswa melakukan interaksi langsung dengan sumber belajar, baik sumber belajar berupa lingkungan sekitar, buku-buku, kegiatan masyarakat, maupun narasumber, seperti penduduk, petani, pemuka masyarakat atau pakar lainnya. Kegiatan ini dapat dilakukan, baik secara individual maupun kelompok. Waktu untuk eksplorasi disesuaikan dengan luasnya bidang yang harus di eksplorasi. Eksplorasi yang memerlukan waktu lama dilakukan pada waktu jam pelajaran di kelas.
Agar eksplorasi menjadi terarah, panduan singkat sebaiknya disiapkan oleh guru. Panduan harus memuat: tujuan, materi, waktu, cara kerja, serta hasil akhir yang diharapkan.
c. Interpretasi
Hasil eksplorasi, kemudian diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, simulasi atau bahkan berupa percobaan kembali jika hal itu memang diperlukan. Interpretasi sebaiknya dilakukan pada jam pelajaran (tatap muka) meskipun persiapannya sudah dilakukan oleh siswa di luar jam pelajaran (tatap muka). Sebaiknya jika eksplorasi dilakukan oleh kelompok, interpretasi dilakukan oleh kelompok. Kemudian, setiap kelompok menyajikan hasil pemahamannya tersebut di depan kelas dengan caranya masing-masing, diikuti oleh tanggapan dari siswa lain. Pada akhir tahap interpretasi, diharapkan semua siswa sudah memahami konsep/topik/masalah yang dikaji.
d. Re-kreasi
Pada tahap ini, siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Hasil re-kreasi sebagai produk kreatif dapat dipresentasikan, didemonstrasikan, dipajang atau ditindaklanjuti.
Pengalaman dalam setiap tahap, lebih-lebih hasil re-kreasi, dapat dijadikan masukan oleh guru dalam merancang pembelajaran berikutnya dengan menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif ini. Segala masukan ini dapat dikomunikasikan kepada siswa ketika tahap orientasi kegiatan yang akan datang. Dengan demikian, tahap-tahap kegiatan ini merupakan satu siklus yang berkaitan satu dengan yang lain.

4. Evaluasi
Evaluasi belajar dilakukan selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Selama proses pembelajaran (dalam keempat tahap), evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berpikir siswa. Kesungguhan mengerjakan tugas, hasil eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan/argumentasi, kemauan untuk bekerja sama dan memikul tanggung jawab bersama merupakan contoh aspek-aspek yang dapat dinilai selama proses pembelajaran. Evaluasi pada akhir pembelajaran adalah evaluasi terhadap produk kreatif yang dihasilkan siswa, di samping tes tentang penguasaan konsep pada akhir pembelajaran. Kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi.

C. Prinsip Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Sejalan dengan karakteristik teori/pendekatan pembelajaran yang melandasi model ini prinsip-prinsip penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif adalah sebagai berikut.
1. Perubahan Pola Pikir (Mind-Set)
Perubahan pola pikir yang mendasar sehingga guru yang mulanya menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber bagi siswa kini berubah menjadi guru sebagai fasilitator yang wajib menyediakan kondisi belajar yang memungkinkan para siswa mampu melakukan eksplorasi, interpretasi, dan kreasi sehingga menghasilkan produktif yang kreatif. Tugas utama guru bukan lagi mengajar, tetapi memfasilitasi terjadinya belajar pada diri siswa.
2. Pemahaman Konsep yang Benar
Guru hendaknya mempelajari dengan cermat hakikat model pembelajaran kreatif dan produktif serta mengadakan/latihan mensimulasikan langkah-langkah penerapannya sehingga sempurna dalam penyampaian konsep dan tercapainnya kompetensi siswa.
3. Keyakinan pada Potensi Siswa Student Centered Learning
Keyakinan terhadap kemampuan yang siswa memiliki akan membuat guru percaya dan mau mengubah paradigma yang menganggap guru sebagai sumber informasi satu-satunya. Sehingga peran guru bukan lagi sebagai pengajar yang menyampaikan ilmu kepada siswa, tetapi lebih sebagai fasilitator dan motivator yang menyiapkan kondisi belajar yang kondusif sehingga mampu mendorong siswa untuk belajar melalui berbagai kegiatan eksplorasi, diskusi.
4. Kreativitas
Kreativitas sangat dituntut terutama dalam merancang berbagai kegiatan dan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan pada tahap eksplorasi dan interpretasi. Makin kreatif seorang guru maka makin kaya variasi kegiatan yang dapat dirancangnya sehingga makin kaya variasi sumber belajar yang dapat dimanfaatkan.

5. Kurikulum yang Fleksibel
Dengan pengorganisasian kurikulum secara fleksibel sehingga perhatian guru dan siswa dapat difokuskan pada topik-topik yang memerlukan kajian intensif sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Tentu hal ini juga dikaitkan dengan perkembangan minat dan kebutuhan dalam lingkungan sekolah.

D. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif

1. Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah satu tindakan. Tugas sebagai guru yaitu membuat rancangan pembelajaran. Adapun langkah-langkah pengembangan rencana pembelajaran sebagai berikut :

Gambar Diagram Langkah Pokok merencanakan Pembelajaran
Kreatif dan Produktif

Langkah-langkah pokok tersebut dapat dirinci kembali sebagai berikut :
a. Identifikasi Kompetensi dan topik dalam kurikulum dapat diperinci sebagai berikut :
1. Identifikasi kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa. Kompetensi ini dapat ditemukan dalam kurikulum.
2. Identifikasi topik-topik yang mendukung ketercapaian kompetensi tersebut.
3. Identiifikasi topik-topik yang sesuai disajikan demgan model pembelajaran kreatif dan produktif.
b. Identifikasi sumber belajar yang terkait dengan topik yang akan diajarkan. Dalam memilih sumber belajar harus diupayakan agar sumber tersebut ada dalam batas-batas jangkauan siswa, artinya siswa mempunyai akses ke sumber belajar tersebut serta mampu menggunakan sumber belajar tersebut untuk menggali konsep yang sedang dipelajarinya. Tentu saja sisa bebas mencari sumber belajar sendiri, tetapi siswa akan sangat terbantu jika informasi mengenai sumber belajar tersebut disediakan oleh guru.
c. Kembangkan kegiatan belajar untuk keempat tahap dalam pembelajaran (orientasi, eksplorasi interpretasi dan re-kreasi) dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, baik secara individual maupun secara kelompok. Setelah kegiatan belajar selesai dikembangkan, perkiraan waktu untuk seluruh kegiatan dan waktu untuk masing-masing tahap.
d. Rancangan prosedur dan alat evaluasi yang akan digunakan untuk menilai pencapaian siswa. Misalnya penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang berisi tentang kualitas dan kuantitas respons atau prakarsa setiap siswa serta pada akhir pembelajaran berupa hasil re-kreasi dan tes tertulis.
Setelah keempat langkah dikerjakan harus diadakan pengecekan kembali apakah sudah sesuai dengan tahap-tahap berikut, dan apabila sudah sesuaia maka dilakukan pengembangan berupa membuat rancangan pembelajaran secara lengkap yang akan digunakan guru untuk siswa sebagai panduan dalam menjalani ketiga tahap (eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi).
Rancangan Kegiatan Belajar
Orientasi
Dilakukan selama 45 menit (1 jam pertemuan), diisi dengan menyampaikan tujuan kompetensi, orientasi cakupan topik yang akan dikaji, tugas (termasuk pembagian kelompok), serta prosedur dan alat evaluasi. Penyampaian setiap topik diikuti oleh diskusi, sampai terjadi kesepakatan antara guru dan siswa. Lembar kerja juga dibahas dalam kesempatan ini.

Ekplorasi
Dilakukan di luar jam pertemuan selama 1 minggu. Kelas dibagi menjadi 6 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5-7 orang. Tugas tiap kelompok mencari contoh-contoh laporan, mempelajarinya, menemukan butir-butir penting laporan, kemudian mencari satu objek yang patut untuk dilaporkan, dan jika mungkin berwawancara dengan orang-orang yang terkait dengan objek yang diobservasi (rincian kegiatan kelompok ada dalam lembar kerja).

Interpretasi
Setiap kelompok membawa hasil eksplorasinya pada pertemuan tatap muka. Interpretasi dilakukan dalam kelompok kecil, dan kemudian setiap kelompok menyampaikan hasilnya di depan kelas.
Hasil yang dilaporkan terdiri dari :
a. Daftar sumber belajar yang dikunjungi dan yang dipilih untuk dilaporkan, serta kegiatan yang dilakukan selama berinteraksi dengan sumber belajar.
b. Laporan yang dianggap paling baik yang ditemukan dalam eksplorasi dan alasannya.
c. Perincian dan deskripsi komponen-komponen sebuah laporan. Kelompok lain menanggapi, dan pada akhir interpretasi, guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan.
Re-Kreasi
Dilakukan secara individual atau kelompok. Secara individual, siswa membuat satu laporan tertulis, dan dalam kelompok siswa menciptakan satu kreasi lain. Tugas ini dilakukan diluar jam pelajaran selama satu minggu, dan disajikan pada waktu satu jam pelajaran, selama dua kali 45 menit. Penyajian ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Menjelaskan karya yang dihasilkan
2. Mendemonstrasikan karya yang dihasilkan
3. Simulasi
4. Cara lain yang dianggap paling sesuai
Evaluasi
Prosedur : proses dan hasil belajar
Alat Evaluasi :
Selama proses belajar mulai dari orientasi sampai dengan re-kreasi, kualitas dan kuantitas respons prakarsa dinilai dengan mengobservasi: jumlah respons, prakarsa, kualitas (isi, bahasa, cara pengungkapan, sikap). Lembar penilaian berupa lembar observasi. Khusus untuk penilaian selama proses eksplorasi, dapat dilakukan ketika kelompok melaporkan hasil kerjanya pada tahap interpretasi, serta bertanya kepada anggota kelompok tentang apa yang terjadi selama eksplorasi.
Penilaian akhir dilakukan dalam bentuk:
1. Tes, pada akhir interpretasi
2. Produk laporan
3. Produk lain yang dihasilkan oleh kelompok sebagai re-kreasi.

2. Pelaksanaan
a. Tahap Orientasi
Agar tahap orientasi dapat berlangsung efektif, hal-hal berikut perlu diperhatikan
1. Sajikan tujuan/kompetensi topik, kegiatan, tugas-tugas, dan evaluasi secara singkat dan jelas.
2. Pada akhir setiap sajian, beri kesempatan kepada siswa untuk memberi respons apakah dalam bentuk pertanyaan, saran atau prakarsa. Dengan demikian, interaksi akan berlangsung multiarah sehingga guru dapat menghindari diri dari kecenderungan mendominasi kelas.
3. Periksa pemahaman siswa terhadap topik yang sedang dikaji.
4. Sebelum berakhirnya tahap orientasi, sebaiknya setiap kelompok langsung mengadakan pertemuan untuk berbagai informasi dan merencanakan kegiatan eksplorasi. Dengan demikian, diharapkan terjadi persepsi yang sama tentang semua butir yang dibahas selanjutnya kelompok membuat serta kesepakatan mengenai hal-hal berikut.
a) Tujuan dan jenis kegiatan
b) Pembagian kelompok
c) Tugas individu dan kelompok
d) Jadwal dan lokasi kegiatan
e) Hasil yang diharapkan dari setiap tahap kegiatan
f) Prosedur dan alat evaluasi pencapaian siswa

b. Tahap Eksplorasi
Untuk meyakinkan bahwa siswa melakukan kegiatan eksplorasi, guru dapat menempuh cara-cara berikut.
1) Hari kedua berlangsungnya tahap eksplorasi, guru bertanya kepada siswa apakah sudah mulai melakukan eksplorasi, apa pengalamanya, dan bagaimana kemajuan kelompok.
2) Secara periodik memonitor kegiatan siswa dengan menanyakan kemajuan setiap kelompok (misalnya eksplorasi berlangsung 1 minggu, guru melakukan monitoring 2-3 kali).
3) Jika memungkinkan, berpartisipasi dalam kegiatan eksplorasi salah satu kelompok sesuai dengan waktu yang tersedia.

c. Tahap Interpretasi
Tahap ini merupakan tahap yang sangat menentukan dalam pembentukan kemampuaan siswa untuk memahami konsep/masalah yang sedang dikaji. Oleh karna itu, guru seyogianya memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan pemahamanya, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelas. Tips berikut ini dapat mengotimalkan kesempatan bagi siswa membangun makna atas konsep/masalah yang sedang dikajinya.
1) Berikan kepada setiap kelompok untuk menyelsaikan tugas di dalam kelompok kecil, sampai mereka siap melaporkan hasil kelompoknya.
2) Fasilitasi setiap kelompok, baik pada awal, ketika dalam proses maupun pada akhir penyelesaian tugasnya.
3) Rancang waktu secara cermat sehingga setiap kelompok dapat menyajikan hasilnya dan mendapat tanggapan dari kelompok lain. Tegaskan waktu yang tersedia untuk melapor dan memberi tanggapan.
4) Pada akhir tahap interpretasi, bimbing siswa membuat kesimpulan bersama-sama sehingga persepsi mereka terhadap konsep/masalah yang dikaji menjadi sama/utuh meskipun mungkin ada perbedaan persepsi, namun mereka dapat memahami mengapa perbedaan itu terjadi.

d. Tahap re-kreasi
Tahap ini merupakan kulminasi dari kegiatan pembelajaran kreatif dan produktif. Agar kulminasi tersebut benar-benar dirasakan oleh semua siswa, tips berikut dapat anda manfaatkan.
1) Adakan pengecekan sebelum tahap re-kreasi tiba, dengan cara menanyakan setiap kelompok apakah sudah siap dengan kreasinya.
2) Beri kesempatan kepada semua kelompok untuk menyajikan hasilnya dan beri kesempatan kepada semua siswa untuk menikmati kreasi dari setiap kelompok. Untuk keperluan ini, semua kelompok dapat memanjang hasilnya di dinding atau di meja, dan seluruh siswa diberi kesempatan untuk menikmati atau menelitinya.
3) Sesuai dengan waktu yang tersedia, berikan kesempatan kepada kelompok untuk mendemonstrasikan kreasinya, yang diikuti oleh tanggapan dari kelompok lain.
4) Berikan penguatan (seperti pujian atau tepukan tangan) kepada kelompok yang kreasinya istimewa.

3. Evaluasi
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam evaluasi, di antaranya melihat hasil belajar siswa, melakukan refleksi, membuat catatan-catatan selama pelaksanaan, bertanya langsung kepada siswa, dan barangkali menjaring pendapat siswa melalui angket.
a. Melihat hasil belajar siswa
Dengan melihat dan mengevaluasi hasil belajar siswa, kita dapat memperkirakan keberhasilan pembelajaran kreatif dan produktif yang sudah kita laksanakan. Dalam hal ini, kita dapat membandingkan hasil belajar tersebut dengan kriteria yang sudah kita tetapkan. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, kita dapat mencari penyebabnya, dengan berbagai cara, antara lain dengan melakukan refleksi.
b. Melakukan refleksi
Sebagaimana anda ketahui, refleksi merupakan satu cara yang cukup profesional dalam melihat kekuatan dan kelemahan dari pembelajaran yang kita kelola. Kita merenungkan kembali apa yang terjadi selama pembelajaran, mengapa hal itu terjadi, dan apa dampaknya bagi siswa. Misalnya hasil kreasi yang dipanjang siswa belum emnggambarkan pemahaman mereka sehingga kita merasa kecewa. Bahkan ada kelompok yang tidak menghasilkan kreasi apa pun. Untuk mencari jawaban dari munculnya peristiwa tersebut dapat melakukan refleksi dengan mengajukan pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri.
1) Apakah saya sudah menjelaskan apa yang harus dibuat oleh kelompok sebagai hasil akhir dari kegiatan ini?
2) Apakah saya sudah memberi contoh tentang hasil yang diharapkan?
3) Apakah ada yang bertanya ketika penjelasan itu saya berikan?
4) Apakah waktu yang diberikan kepada kelompok memadai untuk mengerjakan tugas tersebut?
c. Membuat catatan pelaksanaan
Kebiasaan membuat catatan setiap selesai pembelajaran atau bahkan selama pembelajaran berlangsung merupakan kebiasaan yang sangat baik yang akan membuahkan dokumen yang sangat berharga dalam melihat kekuatan dan kelemahan pembelajaran yang kita kelola. Catatan tersebut dapat berupa: pemanfaatan waktu (waktu kurang, lebih atau waktu terbuang percuma), pertanyaan yang muncul berkali-kali, perilaku siswa yang menyebabkan konsentrasi terganggu, konsep yang susah dipahami oleh siswa atau hal-hal lain yang dipandang penting oleh guru.
d. Bertanya kepada siswa
Siswa merupakan fokus pembelajaran, artinya kepuasan siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan merupakan salah satu tolak ukur pentingnya keberhasilan pembelajaran. Untuk mengetahui hal ini, guru perlu mengetahui persepsi siswa tentang pembelajaran yang dihayatinya. Persepsi siswa dapat diketahui dengan bertanya langsung yang dijawab secara lisan atau meminta siswa mengisi angket. Hal-hal yang ditanyakan dapat beragam, khususnya yang menyangkut kepuasan siswa. Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat anda sajikan, baik secara lisan maupun tertulis dalam bentuk angket.
1) Apakah siswa merasa bosan atau tertantang mengikuti pembelajaran?
2) Apakah siswa merasa mendapat kesempatan berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahap pembelajaran?
3) Apakah ada siswa yang mendominasi kelompok?
4) Bagaimana pendapat siswa mengenai manfaat kegiatan pembelajaran?
5) Apakah siswa puas terhadap hasil yang dicapai dalam kegiatan?
6) Anda dapat menambahkan pertanyaan lain dan mengemasnya dalam angket yang dapat dijawab dengan mudah oleh siswa.

E. Kekuatan dan Kelemahan Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Karakteristik model pembelajaran kreatif dan produktif ini yang mencerminkan kekuatannya sebagai kelompok model yang berfokus pada kebutuhan siswa, sesuai dengan paradigma “student centered learning”.
1) Dalam setiap tahap kegiatan, siswa terlibat secara aktif, baik intelektual maupun emosional.
2) Di samping mencapai dampak intruksional, perstrukturan kegiatan dalam model ini memungkinkan terbentuknya dampak pengiring.
3) Melalui tahap-tahap kegiatan dalam model pembelajaran kreatif dan produktif ini, siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan sumber belajar sehingga kesempatan untuk membentuk pengetahuan sendiri terbuka lebar.
4) Melalui kegiatan re-kreasi, kreativitas terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
5) Penilaian proses dan hasil belajar yang dilakukan sepanjang kegiatan memungkinkan dilakukannya penilaian secara utuh dan komprehensif, di samping siswa mendapat kesempatan untuk menampilkan pemahamnanya dalam berbagai bentuk.
Namun, model pembelajaran kreatif dan produktif ini juga tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang dimilikinya. Kelemahan tersebut, antara lain terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam model pembelajaran seperti ini karena memang sangar berbeda dari pembelajaran tradisional. Guru yang terbiasa menyampaikan semua materi melalui ceramah, mungkin memerlukan waktu untuk dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Siswa juga yang terbiasa mendengarkan penjelasan yang diberikan guru harus mengubah kebiasaan tersebut menjadi aktif mencari sendiri sumber belajar yang dibutuhkan. Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran seperti ini dapat diatasi dengan pelatihan, kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobakannya. Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan menyediakan panduan yang antara lain memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan. Kendala lain adalah waktu. Model pembelajaran ini memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel meskipun untuk topik-topik tertentu, waktu yang diperlukan mungkin cukup 2 kali pertemuan ditambah dengan kegiatan di luar jam pelajaran yang terjadwal.
Jika dicermati, kelemahan yang telah diuraikan sebenarnya bukan merupakan kelemahan model pembelajaran kreatif dan produktif, tetapi telah mengacu kepada ketidaksiapan lapangan. Pada dasarnya, model ini tidak memiliki kelemahan, hanya saja kelemahan itu baru muncul ketika model ini diterapkan. Dengan demikian sebagai seorang guru, harus berusaha untuk mengurangi bahkan meniadakan kelemahan tersebut. Terlepas dari kelemahan, model pembelajaran kreatif dan produktif ini mempunyai kekuatan, seperti yang telah dideskripsikan pada uraian sebelumnya. Jika kelemahan dapat diminimalkan maka kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat memacu kreativitas, sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, sangat diharapkan, Anda akan menjadi pelopor dalam mencoba menerapkan model pemebelajaran kreatif dan produktif ini sesuai dengan bidang studi atau mata pelajaran yang anda ajarkan, bahkan tidak mustahil dari model pembelajaran kreatif dan produktif ini, Anda dapat mengembangkan model lain yang lebih menjanjikan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s