Mekanika Relativistik

Posted: 18 Juni 2011 in Uncategorized

Mekanika Relativistik
Telah dipelajari sebelumnya bahwa ketika kita berurusan dengan kecepatan yang sangat tinggi, transformasi Galileo (fisika klasik) harus diubah dengan transformasi Lorentz (fisika relativistik). Perubahan ini juga harus diterapkan pada berbagai rumus fisika lain seperti rumus gaya, momentum dan energi.
Dalam fisika klasik, momentum didefinisikan sebagai suatu partikel bermassa mo yang bergerak dengan kecepatan v sebagai mov. Jika definisi ini digunakan pada proses tumbukan relativistik (tumbukan dengan kecepatan sangat tinggi), ternyata momentum menjadi tidak kekal. Padahal menurut Einstein, semua hukum Fisika (termasuk hukum kekekalan momentum) selalu sama pada semua kerangka inersia.
Momentum merupakan kesanggupan untuk memindahkan/menggerakkan.
Dalam mekanika Newtonian (mekanika klasik), jika v <<< c dan apabila Σ Fluar pada sistem adalah nol (Σ Fluar = 0), maka berlaku hukum kekekalan momentum (linier). Artinya, jumlah momentum sebelum tumbukan sama dengan jumlah momentum setelah tumbukan.
p1 = p2
m1v1 + m2v2 = (m1v1)’ + (m2v2)’
p2 – p1 = 0
Δp = 0
dp/dt = 0
Apakah hukum kekekalan momentum berlaku juga pada fisika relatifistik?
Dari konsep momentum,
p ⃗=m.v ⃗
dengan m adalah massa relativistik. Jika benda sedang bergerak dengan v → c, maka momentunya disebut momentum relativistik.
m_v=k.m_o , dimana k= 1/√(1- □(v^2/c^2 ))
Jadi, p= [m_o/√(1- v^2/c^2 )].v
Dengan demikian, momentum relativistik suatu partikel dapat didefinisikan sebagai perkalian antara massa relativistik dengan kecepatan partikel.
Jelas bahwa untuk mendefinisikan momentum relativistik ada 2 (dua) hal yang perlu diingat, yaitu:
Momentum relativistik harus mendekati nilai mov ketika kecepatan benda kecil dibandingkan c.
Momentum relativistik harus memenuhi hukum kekekalan momentum ketika diterapkan pada proses tumbukan relativistik (tumbukan dengan kecepatan tinggi).
Dari Hukum Newton II : a ⃗= (ΣF/m) ⃗ atau (ΣF) ⃗= (Δp) ⃗/Δt
Untuk kecepatan v → c, maka
F = Δp/Δt= dp/dt= (d (mv))/dt= (d (k.m_o v))/dt
F = d[(m_o v)/√(1- v^2/c^2 )]/dt

Contoh soal:
Sebuah elektron dengan massa diam 9,1 x 10-31 kg bergerak dengan kecepatan 0,8 c. hitung momentum relativistiknya dan bandingkan dengan momentum klasiknya!
Penyelesaian:
Momentum relativistik dicari dengan persamaan p= [m_o/√(1- v^2/c^2 )].v sedangkan momentum klasik dicari dengan persamaan p_o= m_o u.
Diketahui :
mo = 9,1 x 10-31 kg
v = 0,8 c = 0,8 . 3 x 108 = 2,4 x 108 m/s
Ditanya:
p? po?
Jawab:
p= [m_o/√(1- v^2/c^2 )].v
p= (9,1 × 〖10〗^(-31). 2,4 × 〖10〗^8)/√(1- ((〖0,8〗^2 c^2)/c^2 ) )= (9,1 × 〖10〗^(-31) . 2,4 × 〖10〗^8 )/0,6
p=3,64 × 〖10〗^(-22) kg.m/s
〖 p〗_o=m_o v=9,1 × 〖10〗^(-31) . 2,4 × 〖10〗^8=2,184 × 〖10〗^(-22) kg.m/s

Hitunglah momentum elektron 1 MeV.
Penyelesaian:
E^2= 〖(pc)〗^2+ E_o^2
〖(1 Mev+0,511 MeV)〗^2= 〖(pc)〗^2+ 〖(0,511 MeV)〗^2
p=1,42 Mev/c
Hitunglah momentum sebuah elektron yang kecepatannya 0,8c.
Penyelesaian:
p=mv
p= (m_o c^2)/√(1- (v^2/c^2 ) ) (v/c^2 )= (0,511 MeV)/√(1- 〖(0,8)〗^2 ) (v/c)=0,681 MeV/c

Energi Relativistik
Hubungan yang paling terkenal yang diperoleh Einstein dari postulat relativitas khusus adalah mengenai massa dan energi. Hubungan ini dapata diturunkan secara langsung dari definisi energi kinetik EK dari suatu benda yang bergerak sebagai kerja yang diperlukan untuk membawa benda itu dari keadaan diam hingga mempunyai kecepatan v.
Menurut Fisika Newtonian (Fisika klasik),

 

Usaha oleh F pada benda bermassa m adalah
W= ∫_(x_1)^(x_2)▒〖F.dx〗 , jika pada x_1→diam berarti v_1=0
Oleh karena itu, 〖EK〗_1= 1/2 mv_1^2=0 dan 〖EK〗_2= 1/2 mv_2^2
Jadi, ΔEK= ∫_0^s▒〖F ds〗
ΔEK= ∫▒[d((m_o v)/√(1- v^2/c^2 ))/dt] ds
ΔEK= ∫▒〖d [(m_o v)/√(1- v^2/c^2 )] 〗 ds/dt
〖EK〗_2- 〖EK〗_1= ∫▒〖d [(m_o v)/√(1- v^2/c^2 )] 〗 ds/dt (*)
karena v_1=0, maka 〖EK〗_1=0
EK= ∫▒〖d [(m_o v)/√(1- v^2/c^2 )] 〗 v
EK= ∫_0^mv▒〖v .d(mv) 〗 , dengan p=mv
EK= ∫_0^p▒〖v dp〗

misalkan:
u=v dan dv=dp
EK= ∫▒〖v dp〗
EK=pv- ∫▒〖p dv〗
EK= ((m_o v)/√(1- v^2/c^2 )) v – ∫▒[(m_o v)/√(1- v^2/c^2 )] dv (**)

misalkan:
x=1- v^2/c^2
dx/dv=0- 1/c^2 2v
dx= ((-2v)/c^2 ) dv
( 〖-c〗^2)/2v dx=dv

sehingga,
EK= ∫▒〖p dv〗
EK= ∫▒((m_o v)/√(1- v^2/c^2 )) dv
EK= ∫▒(m_o v)/√(1- v^2/c^2 ) 〖-c〗^2/2v dx
EK= ∫▒〖(m_o v)/x^(1/2) 〖-c〗^2/2〗 dx
EK= (〖-m〗_o c^2)/2 ∫▒x^((-1)/2) dx
EK= (-1)/2 m_o c^2 ∫▒〖x^((-1)/2) dx〗
EK= (-1)/2 m_o c^2 |〖2x〗^(1/2) | ■(v@0)
EK= (-1)/2 m_o c^2 |2√(1- v^2/c^2 )| ■(v@@0)
EK= (-1)/2 m_o c^2 (√(1- v^2/c^2 )- 2) (***)
Kembali lagi ke persamaan (**), kemudian substitusikan persamaan (***) ke (**),
EK= ((m_o v)/√(1- v^2/c^2 )) v- ∫_0^v▒((m_o v)/√(1- v^2/c^2 )) dv
EK= (m_o v^2)/√(1- v^2/c^2 )+ 1/2 m_o c^2 (2√(1- v^2/c^2 )- 2)
EK= (m_o v^2)/√(1- v^2/c^2 )+ m_o c^2 √(1- v^2/c^2 )- m_o c^2
EK= (m_o v^2)/√(1- v^2/c^2 )+ (mc^2 √(1- v^2/c^2 )) (√(1- v^2/c^2 ))- m_o c^2
EK=mv^2+ mc^2 (1- v^2/c^2 )- m_o c^2
EK=mv^2+ mc^2- mv^2- m_o c^2
EK=mc^2- m_o c^2
EK=E- E_o (****)
dengan E=energi total ; E_o=energi diam ;EK=energi kinetik
Persamaan (****) ini sudah dikonfirmasi melalui eksperimen dalam sebuah akselerator (pemercepat partikel energi tinggi). Pada kecepatan rendah yaitu ketika v/c ≪≪1, persamaan tersebut menjadi EK= 1/2 mv^2.
Selain itu, hasil dari persamaam (****) menunjukkan bahwa energi kinetik suatu benda sama dengan pertambahan massanya sebagai akibat gerak relatifnya dikalikan dengan kuadrat kelajuan cahaya. Massa dan energi bukan merupakan besaran yang bebas/lepas, maka hukum kekekalan massa dan energi sebenarnya satu, yaitu hukum kekekalan massa-energi. Massa dapat diciptakan atau dapat dimusnahkan, tetapi jika hal itu terjadi maka sejumlah energi yang setara akan hilang atau energi yang stara akan muncul. Sebaliknya, jika massa tidak diciptakan atau dimusnahkan maka tidak ada energi yang stara akan hilang/muncul.
Oleh karena itu,
〖 EK〗_(total awal)= 〖EK〗_(total akhir)
E=EK+ E_o
mc^2=EK+ m_o c^2
Partikel Tak Bermassa
Partikel akan memiliki massa diam hanya bila partikel itu bergerak dengan kelajuan cahaya.
Adakah partikel yang tidak bermassa? atau Adakah partikel yang massa diamnya nol m_o=0 ?
Dalam mekanika klasik, suatu partikel harus mempunyai massa diam agar dapat memiliki energi dan momentum, tetapi dalam mekanika relativistik persyaratan seperti itu tidak berlaku.
Dari persamaan energi total,
E=mc^2
E= (m_o c^2)/√(1- v^2/c^2 )
Jika m_o=0 dan v≪≪c (v/c →0), jadi E=0 dan p=0
Dari persamaan momentum relativistik,
p=mv
p= (m_o v)/√(1- v^2/c^2 )
Jika m_(o )=0 dimana v→c, maka E dan p dapat memiliki nilai berapa saja sebab
(E= 0/0=tak tertentu banyaknya ;p=0/0=tak tertentu banyaknya)
Jadi, partikel tak bermassa dapat memiliki energi dan momentum, asal saja dalam keadaan diam atau bergerak dengan kelajuan/kecepatan cahaya.
Berapa energi (E) atau momentum (p) untuk partikel yang tak bermassa?

Strategi :
Kuadratkan E dan p
E^2=m^2 c^4= (m_o^2 c^4)/((1- v^2/c^2 ) )

p^2= m^2 v^2= (m_o^2 v^2)/((1- v^2/c^2 ) )

Kalikan p^2 dengan c^2
p^2 c^2= (m_o^2 v^2 c^2)/((1- v^2/c^2 ) )

Kurangi hasil E^2 dengan p^2 c^2

E^2- p^2 c^2= (m_o^2 c^4)/((1- v^2/c^2 ) )- (m_o^2 v^2 c^2)/((1- v^2/c^2 ) )

〖 E〗^2- p^2 c^2= m_o^2 c^4

〖 E〗^2= p^2 c^2+ m_o^2 c^4

E= √(p^2 c^2+ m_o^2 c^4 )
E= √(c^2 (p^2+ m_o^2 c^2 ) )
E=c √(p^2+ m_o^2 c^2 ) ,dengan m_o=0

E=c √(p^2+ 0)

E=p c
Jadi, sangat dimungkinkan adanya partikel tak bermassa asal saja kecepatannya sama atau mendekati kecepatan cahaya. Nyatanya, ada dua jenis partikel tak bermassa yang telah dikemukakan foton dan neutrino dan perilaku partikel itu tidak menyimpang dari yang diharapkan. Jelaslah, jika ada partikel dengan mo = 0, maka hubungan antara energi dan momentumnya harus diberikan dengan E=p c.
Catatan :
Bukti Eksperimen Relativitas Einstein
Teori relativitas Einstein telah mengalami berbagai ujian melalui berbagai eksperimen. Dan hasilnya sangat sukses.
Misalnya pada momentum relativitas. Eksperimen yang dilakukan pada elektron-elektron yang dipercepat mendekati kecepatan cahaya, menunjukkan bahwa momentum elektron tidak sama dengan moc (mo adalah massa diam elektron). Menurut hasil eksperimen, rumus yang tepat adalah rumus momentum relativitas.
Contoh soal :
Suatu elektron mempunyai kecepatan 0,8c. tentukan nergi total dan energi kinetiknya. Massa elektron 0,511 MeV/c2 (= 9,1 x 10-31 kg, silahkan buktikan!)
Penyelesaian:
Energi diam elektron:
〖 E〗_o= m_o c^2=0,511MeV/c^2 .c^2=0,511 MeV
Energi elektron:
E= (m_o c^2)/√(1- v^2/c^2 )= 1/√(1- v^2/c^2 ) 0,511 MeV/c^2 .c^2=0,852 MeV
Energi kinetik elektron:
EK=E-E_o=0,852-0,511=0,341 MeV
Catatan: 1 MeV = 106 eV = 1,6 x 10-31 J

Di Laboratorium Fisika partikel di Fermilab, proton diberi energi kinetik sampai 1,6 x 10-7 J. Berapa selisih kecepatan proton ini dengan kecepatan cahaya? Massa proton 1,67 x 10-27 kg.
Penyelesaian:
Diketahui:
mo = 1,67 x 10-27 kg
EK = 1,6 x 10-7 J
Ditanya:
c – v ?

Jawab:

〖 E〗_o= m_o c^2=1,67 × 〖10〗^(-27) (3 × 〖10〗^8 )2 = 1,5 x 10-10 J

EK=E- E_o
EK+ E_o=E
EK+ E_o= E_o/√(1- v^2/c^2 )
√(1- v^2/c^2 )= E_o/〖EK+E〗_o

1- v^2/c^2 = (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)
v^2/c^2 =1- (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)
〖 v〗^2= c^2 [1- (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)]
v=c √([1- (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)] )
c-v=c-c √([1- (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)] )
c-v=c (1- √([1- (E_o/(EK+ E_o )) ■(2@)] ))
c-v=c (1- √([1- ((1,5 × 〖10〗^(-10))/(1,6 × 〖10〗^(-7)+ 1,5 × 〖10〗^(-10) )) ■(2@@)] ))
c-v=c (1- √((1-8,8 × 〖10〗^(-7) ) ))
c-v=4,4 ×〖10〗^(-7) c=132,5 m/s

Catatan:
Kadang-kadang untuk menghitung √(1-a) untuk a kecil sekali lebih baik gunakan pendekatan binomial, yaitu √(1-a) ≈1- 1/2 a .

Hitung momentum elektron yang energi kinetiknya 1,6 x 10-13 J! Massa elektron 9,1 x 10-31 kg.
Penyelesaian: kita dapat menghitung dulu kecepatan elektron dengan rumus,
EK= (1/√(1 – v^2/c^2 ) -1) m_o c^2
Setelah itu gunakan rumus, p = m v untuk menghitung momentum elektron.
Cara lain adalah sebagai berikut:
E^2=p^2 c^2+ E_o^2

〖 p〗^2 c^2= E^2- E_o^2

〖 p〗^2= (E^2- E_o^2)/c^2

p= √(((E_o+ EK) ■(2@)- E_o^2)/c^2 )

p= √(((m_o c^2+ EK) ■(2@)- m_o^2 c^4)/c^2 )

p=√((9,1 × 〖10〗^(-31) c +1,6 ×〖10〗^(-13)/c ) ■(2@))- (9,1 × 〖10〗^(-31) c) ■(2@)

p= √((8,06 × 〖10〗^(-22) ) ■(2@)- (2,73 × 〖10〗^(-22) ) ■(2@))

p= 〖10〗^(-22) √57,51=7,59 × 〖10〗^(-22) kg.m/s

Sebuah partikel dengan massa diam mo bergerak dengan kecepatan 0,8c dan bertumbukan elastis sempurna dengan partikel lain bermassa diam 3 mo yang berada dalam keadaan diam. Berapakah massa diam gabungan kedua massa tersebut?
Penyelesaian:
Dari persamaan,
p_akhir=p_awal
(M_o u_f)/√(1- ((u_f^2)/c^2 ) )= (m_o u_i)/√(1- ((u_i^2)/c^2 ) )= (m_o (0,8c))/√(1- 〖(0,8)〗^2 )= 4/3 m_o c
Dari persamaan,
E_akhir=E_awal
(M_o c^2)/√(1- ((u_f^2)/c^2 ) ) = (m_o c^2)/√(1- ((u_i^2)/c^2 ) )+ 3m_o c^2= (m_o c^2)/√(1- 〖(0,8)〗^2 )+ 3m_o c^2 =4,67 m_o c^2
dengan menyelesaikan kedua persamaan tersebut, maka akan diperoleh u_f=0,286c dan M_o=4,47 m_o

Hitunglah kecepatan sebuah elektron yang energi kinetiknya 2 MeV.
Penyelesaian:
EK= (m_o c^2)/√(1- (v^2/c^2 ) )- m_o c^2
2 MeV= (0,511 MeV)/√(1- (v^2/c^2 ) )- 0,511 MeV
v=0,98 c

A. Pengertian Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai teori/pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Teori dan pendekatan tersebut, antara lain belajar aktif, belajar kreatif, pendekatan konstruktif, serta belajar kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap teori/pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas serta menghasilkan sesuatu sebagai produk yang bersumber dari pemahaman siswa terhadap konsep yang sedang dikaji.
1. Belajar Aktif
Belajar hanya terjadi jika siswa aktif, dalam arti siswa terlibat optimal secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran. Siswa tidak menjadi penonton yang selalu menerima pertunjukkan yang disuguhkan oleh guru, tetapi menjdi pelaku utama dalam pembelajaran. Tanpa keaktifan siswa, “belajar” tidak akan terjadi dalam diri siswa. Guru mungkin sudah menyampaikan berbagai informasi, namun jika siswa tidak aktif, informasi atau pengetahuan yang disampaikan tersebut akan berlalu tanpa bekas. Keterlibatan secara emosional akan memungkinkan siswa menyadari “makna” dari apa yang dipelajarinya. Siswa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan jika guru mampu menyediakan kondisi belajar yang kondusif. Keaktifan siswa dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik yang dipicu dengan mengerjakan sesuatu, maupun yang dipicu oleh dialog dengan orang lain atau dengan diri sendiri.
2. Pendekatan Konstruktivisme
Asumsi dasar yang melandasi pendekatan ini adalah pembelajaran harus menekankan pada “pembentukan makna” oleh siswa karena belajar mempersyaratkan self regulation and the building of conceptual structure through reflection and abstraction. Ini berarti bahwa siswa harus mampu mengonseptualisasikan pengetahuan melalui refleksi dan abstraksi. Hal ini hanya mungkin terjadi bila siswa mendapat kesempatan yang luas atau memadai untuk menjelajahi lingkungan sumber belajar yang memungkinkan terjadinya interaksi. Oleh karena pendekatan ini mengahargai kemampuan siswa dalam membentuk makna maka siswa juga mendapat kesempatan yang luas untuk mempresentasikan atau menampilkan pemahamannya dengan berbagai cara (multiple representation of understanding).

3. Belajar Kooperatif dan Kolaboratif
Jika Anda mengingat-ingat kembali pengalaman Anda ketika menjadi siswa atau bahkan ketika sudah menjadi guru, Anda tentu ingat bahwa kerja kelompok pernah Anda alami atau pernah anda rancang untuk para siswa Anda. Kerja kelompok memang merupakan salah satu modus interaksi, yang jika dirancang dan dilaksanakan dengan benar akan memungkinkan terbentuknya kebiasaan bekerja sama, berbagi tanggung jawab, saling menghargai, di samping tentu saja tercapainya tujuan pembelajaran, seperti terpecahnya masalah yang diberikan. Baik belajar kooperatif maupun belajar secara kolaboratif mempunyai dampak pengiring yang hampir sama dalam hal membentuk kemampuan bekerja sama, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Di samping itu, bekerja dalam kelompok akan memungkinkan para siswa berbagi informasi dan pengalaman, meningkatkan keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi antarpribadi, serta mengembangkan kepekaan. Perbedaan antara keduanya adalah pada struktur kegiatan. Belajar kooperatif menuntut kerja kelompok dalam bentuk tatap muka dengan kegiatan yang lebih terstruktur, seperti diskusi kelompok kecil, sedangkan belajar kolaboratif lebih leluasa karena kelompok dapat mengerjakan tugas secara lebih independent, misalnya menyelesaikan suatu tugas di luar waktu tatap muka, kemudian hasilnya dilaporkan dalam pertemuan tatap muka. Dua faktor yang sangat perlu diperhatikan guru dalam merancang belajar kooperatif dan kolaboratif adalah jenis tugas dan pengelompokan. Jenis tugas haruslah memungkinkan siswa berbagi pendapat, tanggung jawab, informasi dan sejenisnya, sedangkan sistem pengelompokan haruslah mempertimbangkan karakteristik siswa serta tujuan kegiatan. Dengan demikian, tugas-tugas yang diberikan harus bersifat terbuka sehingga setiap anggota kelompok dapat menyumbang pikiran untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan perkataan lain, tugas yang diberikan hanya mungkin dikerjakan oleh kelompok, dan tidak mungkin diselesaikan secara individual.

4. Belajar Kreatif
Untuk menjadi kreatif, seperangkat persyaratan harus dipenuhi. Erwin Segal (dalam Black, 2003) menyatakan bahwa untuk menjadi kreatif, seseorang harus mempunyai komitmen yang tinggi, kemampuan bekerja keras, bersemangat, dan percaya diri. Dalam situasi kelas, kreativitas dapat dikembangkan melalui kegiatan curah pendapat, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tanpa rasa takut dan mempercayai atau meyakinkan pendapatnya, serta mengajukan pertanyaan terbuka. Semua ini akan mungkin terjadi jika suasana kelas kondusif, serta guru dan siswa bebas melakukan eksplorasi atas topik kurikulum. Kreativitas dalam bidang akademik hanya mungkin ditumbuhkan jika guru mampu memosisikan diri sebagai fasilitator dengan merancang tugas-tugas yang menuntut siswa menghasilkan sesuatu yang baru (orisinal, asli), memilih dan merancang tugas sendiri, melakukan independent study atau melakukan satu percobaan/eksperimen (Torrance&Golf).
Penerapan keempat pedekatan/teori tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran kreatif dan produktif, yang secara eksplisit dirancang sebagai berikut.
1) Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran diupayakan atau difasilitasi dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk menjelajahi berbagai sumber yang relevan dengan topik/konsep/masalah yang sedang dikaji. Eksplorasi ini akan memungkinkan mereka melakukan interaksi dengan lingkungan dan pengalamannya sendiri, sebagai media untuk mengostruksi pengetahuan.
2) Siswa didorong untuk menemukan atau mengontruksi sendiri konsep yang sedang dikaji, melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi atau percobaan. Dengan cara ini, konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa, tetapi dibentuk sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang terjadi ketika siswa melakukan eksplorasi dan interpretasi. Dengan perkataan lain, siswa didorong untuk membangun makna dari pengalamannya sehingga pemahamannya tentang fenomena yang sedang dikaji menjadi meningkat. Di samping itu, munculnya berbagai sudut pandang siswa terhadap topik/konsep/masalah yang sama sangat dihargai, dan siswa didorong untuk mempertahankan sudut pandangnya dengan argumentasi yang relevan. Hal ini merupakan salah satu realisasi hakikat konstruktivisme dalam pembelajaran.
3) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan rekreasi. Di samping itu, siswa juga mendapat kesempatan untuk membantu temannya dalam menyelesaikan satu tugas. Kebersamaan, baik dalam eksplorasi, interpretasi, serta rekreasi dan pemajangan hasil merupakan arena interaksi yang memperkaya pengalaman.
4) Oleh karena pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri (Erwin Segal, dalam Black, 2003) maka dalam konteks pembelajaran, kreativitas dapat ditumbuhkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkaji dan mengeksplorasi topik-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir keras, kemudian mengejar pendapat siswa tentang ide-ide besar dari berbagai perspektif. Guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan pemehamannya tentang topik-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri (Black, 2003).
Dengan mengacu kepada karakteristik tersebut pembelajaran kreatif dan produktif diasumsikan akan mampu memotivasi siswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya secara kreatif. Oleh karena karakteristik yang seperti itu, model pembelajaran kreatif dan produktif ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai bidang studi dengan topik-topik yang bersifat terbuka, baik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret.

B. Sosok Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Sosok model mengacu kepada komponen-komponen sebuah model pembelajaran, yang dasarnya terdiri dari tujuan, materi, kegiatan, dan evalusi. Deskripsi sosok model ini juga bertitik tolak dari keempat komponen tersebut.
1. Tujuan (dampak instruksional dan dampak pengiring)
Dampak instruksional yang dapat dicapai melalui model pembelajaran ini, antara lain:
a. pemahaman terhadap suatu nilai, konsep atau masalah tertentu;
b. kemampuan menerapkan konsep atau memecahkan masalah;
c. kemampuan mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.
Dari segi dampak pengiring (nurturant effects), melalui model pembelajaran kreatif dan produktif diharapkan dapat dibentuk kemampuan berpikir kritis, bertanggung jawab, serta bekerja sama, yang semuanya merupakan tujuan jangka panjang. Tentu saja dampak pengiring hanya mungkin terbentuk jika kesempatan untuk menghayati berbagai kemampuan tersebut cukup memadai. Artinya, model pembelajaran ini diterapkan secara benar dan memadai.

2. Materi
Materi yang sesuai disajikan dengan model ini adalah materi yang menuntut pemahaman tinggi terhadap nilai, konsep atau masalah aktual di masyarakat; serta keterampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi.
3. Kegiatan Pembelajaran
Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran kreatif dan produktif dibagi menjadi empat langkah, yaitu; orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar Diagram 4 Langkah Pokok Pembelajaran

Dari bagan di atas, langkah pembelajaran selalu dimulai dengan orientasi sebagai kegiatan pendahuluan, diikuti oleh eksplorasi yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar melalui berbagai cara. Hasil eksplorasi, kemuadian diinterpretasikan untuk memantapkan pemahaman. Akhirnya dalam tahap re-kreasi, para siswa dapat menciptakan sesuatu dari pemahamannya. Hasil re-kreasi ini dapat dipajang, didemonstrasikan, diterbitkan atau dimanfaatkan oleh siswa, bahkan oleh masyarakat luas. Hasil re-kreasi dapat dijasikan masukan untuk kegiatan berikutnya, yang dapat dikomunikasikan pada rahap orientasi. Setiap langkah dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para guru, dengan berpegang pada hakikat setiap langkah. Deskripsi singkat setiap langkah adalah sebagai berikut.

a. Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan orientasi untuk mengomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, serta hasil akhir yang diharapkan dari siswa, serta penilaian yang akan diterapkan. Pada kesempatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tentang langkah atau cara kerja serta hasil akhir yang diharapkan, demikian juga dengan penilaian. Negosiasi tentang aspek-aspek tersebut dapat terjadi antara guru dan siswa, namun pada akhir orientasi diharapkan sudah terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.
b. Eksplorasi
Pada tahap ini, siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah atau konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukkan, melakukan percobaan, browsing melalui internet, dan sebagainya. Dengan demikian, para siswa melakukan interaksi langsung dengan sumber belajar, baik sumber belajar berupa lingkungan sekitar, buku-buku, kegiatan masyarakat, maupun narasumber, seperti penduduk, petani, pemuka masyarakat atau pakar lainnya. Kegiatan ini dapat dilakukan, baik secara individual maupun kelompok. Waktu untuk eksplorasi disesuaikan dengan luasnya bidang yang harus di eksplorasi. Eksplorasi yang memerlukan waktu lama dilakukan pada waktu jam pelajaran di kelas.
Agar eksplorasi menjadi terarah, panduan singkat sebaiknya disiapkan oleh guru. Panduan harus memuat: tujuan, materi, waktu, cara kerja, serta hasil akhir yang diharapkan.
c. Interpretasi
Hasil eksplorasi, kemudian diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, simulasi atau bahkan berupa percobaan kembali jika hal itu memang diperlukan. Interpretasi sebaiknya dilakukan pada jam pelajaran (tatap muka) meskipun persiapannya sudah dilakukan oleh siswa di luar jam pelajaran (tatap muka). Sebaiknya jika eksplorasi dilakukan oleh kelompok, interpretasi dilakukan oleh kelompok. Kemudian, setiap kelompok menyajikan hasil pemahamannya tersebut di depan kelas dengan caranya masing-masing, diikuti oleh tanggapan dari siswa lain. Pada akhir tahap interpretasi, diharapkan semua siswa sudah memahami konsep/topik/masalah yang dikaji.
d. Re-kreasi
Pada tahap ini, siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Hasil re-kreasi sebagai produk kreatif dapat dipresentasikan, didemonstrasikan, dipajang atau ditindaklanjuti.
Pengalaman dalam setiap tahap, lebih-lebih hasil re-kreasi, dapat dijadikan masukan oleh guru dalam merancang pembelajaran berikutnya dengan menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif ini. Segala masukan ini dapat dikomunikasikan kepada siswa ketika tahap orientasi kegiatan yang akan datang. Dengan demikian, tahap-tahap kegiatan ini merupakan satu siklus yang berkaitan satu dengan yang lain.

4. Evaluasi
Evaluasi belajar dilakukan selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran. Selama proses pembelajaran (dalam keempat tahap), evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berpikir siswa. Kesungguhan mengerjakan tugas, hasil eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan/argumentasi, kemauan untuk bekerja sama dan memikul tanggung jawab bersama merupakan contoh aspek-aspek yang dapat dinilai selama proses pembelajaran. Evaluasi pada akhir pembelajaran adalah evaluasi terhadap produk kreatif yang dihasilkan siswa, di samping tes tentang penguasaan konsep pada akhir pembelajaran. Kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi.

C. Prinsip Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Sejalan dengan karakteristik teori/pendekatan pembelajaran yang melandasi model ini prinsip-prinsip penerapan model pembelajaran kreatif dan produktif adalah sebagai berikut.
1. Perubahan Pola Pikir (Mind-Set)
Perubahan pola pikir yang mendasar sehingga guru yang mulanya menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber bagi siswa kini berubah menjadi guru sebagai fasilitator yang wajib menyediakan kondisi belajar yang memungkinkan para siswa mampu melakukan eksplorasi, interpretasi, dan kreasi sehingga menghasilkan produktif yang kreatif. Tugas utama guru bukan lagi mengajar, tetapi memfasilitasi terjadinya belajar pada diri siswa.
2. Pemahaman Konsep yang Benar
Guru hendaknya mempelajari dengan cermat hakikat model pembelajaran kreatif dan produktif serta mengadakan/latihan mensimulasikan langkah-langkah penerapannya sehingga sempurna dalam penyampaian konsep dan tercapainnya kompetensi siswa.
3. Keyakinan pada Potensi Siswa Student Centered Learning
Keyakinan terhadap kemampuan yang siswa memiliki akan membuat guru percaya dan mau mengubah paradigma yang menganggap guru sebagai sumber informasi satu-satunya. Sehingga peran guru bukan lagi sebagai pengajar yang menyampaikan ilmu kepada siswa, tetapi lebih sebagai fasilitator dan motivator yang menyiapkan kondisi belajar yang kondusif sehingga mampu mendorong siswa untuk belajar melalui berbagai kegiatan eksplorasi, diskusi.
4. Kreativitas
Kreativitas sangat dituntut terutama dalam merancang berbagai kegiatan dan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan pada tahap eksplorasi dan interpretasi. Makin kreatif seorang guru maka makin kaya variasi kegiatan yang dapat dirancangnya sehingga makin kaya variasi sumber belajar yang dapat dimanfaatkan.

5. Kurikulum yang Fleksibel
Dengan pengorganisasian kurikulum secara fleksibel sehingga perhatian guru dan siswa dapat difokuskan pada topik-topik yang memerlukan kajian intensif sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Tentu hal ini juga dikaitkan dengan perkembangan minat dan kebutuhan dalam lingkungan sekolah.

D. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif

1. Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah satu tindakan. Tugas sebagai guru yaitu membuat rancangan pembelajaran. Adapun langkah-langkah pengembangan rencana pembelajaran sebagai berikut :

Gambar Diagram Langkah Pokok merencanakan Pembelajaran
Kreatif dan Produktif

Langkah-langkah pokok tersebut dapat dirinci kembali sebagai berikut :
a. Identifikasi Kompetensi dan topik dalam kurikulum dapat diperinci sebagai berikut :
1. Identifikasi kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa. Kompetensi ini dapat ditemukan dalam kurikulum.
2. Identifikasi topik-topik yang mendukung ketercapaian kompetensi tersebut.
3. Identiifikasi topik-topik yang sesuai disajikan demgan model pembelajaran kreatif dan produktif.
b. Identifikasi sumber belajar yang terkait dengan topik yang akan diajarkan. Dalam memilih sumber belajar harus diupayakan agar sumber tersebut ada dalam batas-batas jangkauan siswa, artinya siswa mempunyai akses ke sumber belajar tersebut serta mampu menggunakan sumber belajar tersebut untuk menggali konsep yang sedang dipelajarinya. Tentu saja sisa bebas mencari sumber belajar sendiri, tetapi siswa akan sangat terbantu jika informasi mengenai sumber belajar tersebut disediakan oleh guru.
c. Kembangkan kegiatan belajar untuk keempat tahap dalam pembelajaran (orientasi, eksplorasi interpretasi dan re-kreasi) dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, baik secara individual maupun secara kelompok. Setelah kegiatan belajar selesai dikembangkan, perkiraan waktu untuk seluruh kegiatan dan waktu untuk masing-masing tahap.
d. Rancangan prosedur dan alat evaluasi yang akan digunakan untuk menilai pencapaian siswa. Misalnya penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang berisi tentang kualitas dan kuantitas respons atau prakarsa setiap siswa serta pada akhir pembelajaran berupa hasil re-kreasi dan tes tertulis.
Setelah keempat langkah dikerjakan harus diadakan pengecekan kembali apakah sudah sesuai dengan tahap-tahap berikut, dan apabila sudah sesuaia maka dilakukan pengembangan berupa membuat rancangan pembelajaran secara lengkap yang akan digunakan guru untuk siswa sebagai panduan dalam menjalani ketiga tahap (eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi).
Rancangan Kegiatan Belajar
Orientasi
Dilakukan selama 45 menit (1 jam pertemuan), diisi dengan menyampaikan tujuan kompetensi, orientasi cakupan topik yang akan dikaji, tugas (termasuk pembagian kelompok), serta prosedur dan alat evaluasi. Penyampaian setiap topik diikuti oleh diskusi, sampai terjadi kesepakatan antara guru dan siswa. Lembar kerja juga dibahas dalam kesempatan ini.

Ekplorasi
Dilakukan di luar jam pertemuan selama 1 minggu. Kelas dibagi menjadi 6 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5-7 orang. Tugas tiap kelompok mencari contoh-contoh laporan, mempelajarinya, menemukan butir-butir penting laporan, kemudian mencari satu objek yang patut untuk dilaporkan, dan jika mungkin berwawancara dengan orang-orang yang terkait dengan objek yang diobservasi (rincian kegiatan kelompok ada dalam lembar kerja).

Interpretasi
Setiap kelompok membawa hasil eksplorasinya pada pertemuan tatap muka. Interpretasi dilakukan dalam kelompok kecil, dan kemudian setiap kelompok menyampaikan hasilnya di depan kelas.
Hasil yang dilaporkan terdiri dari :
a. Daftar sumber belajar yang dikunjungi dan yang dipilih untuk dilaporkan, serta kegiatan yang dilakukan selama berinteraksi dengan sumber belajar.
b. Laporan yang dianggap paling baik yang ditemukan dalam eksplorasi dan alasannya.
c. Perincian dan deskripsi komponen-komponen sebuah laporan. Kelompok lain menanggapi, dan pada akhir interpretasi, guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan.
Re-Kreasi
Dilakukan secara individual atau kelompok. Secara individual, siswa membuat satu laporan tertulis, dan dalam kelompok siswa menciptakan satu kreasi lain. Tugas ini dilakukan diluar jam pelajaran selama satu minggu, dan disajikan pada waktu satu jam pelajaran, selama dua kali 45 menit. Penyajian ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Menjelaskan karya yang dihasilkan
2. Mendemonstrasikan karya yang dihasilkan
3. Simulasi
4. Cara lain yang dianggap paling sesuai
Evaluasi
Prosedur : proses dan hasil belajar
Alat Evaluasi :
Selama proses belajar mulai dari orientasi sampai dengan re-kreasi, kualitas dan kuantitas respons prakarsa dinilai dengan mengobservasi: jumlah respons, prakarsa, kualitas (isi, bahasa, cara pengungkapan, sikap). Lembar penilaian berupa lembar observasi. Khusus untuk penilaian selama proses eksplorasi, dapat dilakukan ketika kelompok melaporkan hasil kerjanya pada tahap interpretasi, serta bertanya kepada anggota kelompok tentang apa yang terjadi selama eksplorasi.
Penilaian akhir dilakukan dalam bentuk:
1. Tes, pada akhir interpretasi
2. Produk laporan
3. Produk lain yang dihasilkan oleh kelompok sebagai re-kreasi.

2. Pelaksanaan
a. Tahap Orientasi
Agar tahap orientasi dapat berlangsung efektif, hal-hal berikut perlu diperhatikan
1. Sajikan tujuan/kompetensi topik, kegiatan, tugas-tugas, dan evaluasi secara singkat dan jelas.
2. Pada akhir setiap sajian, beri kesempatan kepada siswa untuk memberi respons apakah dalam bentuk pertanyaan, saran atau prakarsa. Dengan demikian, interaksi akan berlangsung multiarah sehingga guru dapat menghindari diri dari kecenderungan mendominasi kelas.
3. Periksa pemahaman siswa terhadap topik yang sedang dikaji.
4. Sebelum berakhirnya tahap orientasi, sebaiknya setiap kelompok langsung mengadakan pertemuan untuk berbagai informasi dan merencanakan kegiatan eksplorasi. Dengan demikian, diharapkan terjadi persepsi yang sama tentang semua butir yang dibahas selanjutnya kelompok membuat serta kesepakatan mengenai hal-hal berikut.
a) Tujuan dan jenis kegiatan
b) Pembagian kelompok
c) Tugas individu dan kelompok
d) Jadwal dan lokasi kegiatan
e) Hasil yang diharapkan dari setiap tahap kegiatan
f) Prosedur dan alat evaluasi pencapaian siswa

b. Tahap Eksplorasi
Untuk meyakinkan bahwa siswa melakukan kegiatan eksplorasi, guru dapat menempuh cara-cara berikut.
1) Hari kedua berlangsungnya tahap eksplorasi, guru bertanya kepada siswa apakah sudah mulai melakukan eksplorasi, apa pengalamanya, dan bagaimana kemajuan kelompok.
2) Secara periodik memonitor kegiatan siswa dengan menanyakan kemajuan setiap kelompok (misalnya eksplorasi berlangsung 1 minggu, guru melakukan monitoring 2-3 kali).
3) Jika memungkinkan, berpartisipasi dalam kegiatan eksplorasi salah satu kelompok sesuai dengan waktu yang tersedia.

c. Tahap Interpretasi
Tahap ini merupakan tahap yang sangat menentukan dalam pembentukan kemampuaan siswa untuk memahami konsep/masalah yang sedang dikaji. Oleh karna itu, guru seyogianya memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan pemahamanya, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelas. Tips berikut ini dapat mengotimalkan kesempatan bagi siswa membangun makna atas konsep/masalah yang sedang dikajinya.
1) Berikan kepada setiap kelompok untuk menyelsaikan tugas di dalam kelompok kecil, sampai mereka siap melaporkan hasil kelompoknya.
2) Fasilitasi setiap kelompok, baik pada awal, ketika dalam proses maupun pada akhir penyelesaian tugasnya.
3) Rancang waktu secara cermat sehingga setiap kelompok dapat menyajikan hasilnya dan mendapat tanggapan dari kelompok lain. Tegaskan waktu yang tersedia untuk melapor dan memberi tanggapan.
4) Pada akhir tahap interpretasi, bimbing siswa membuat kesimpulan bersama-sama sehingga persepsi mereka terhadap konsep/masalah yang dikaji menjadi sama/utuh meskipun mungkin ada perbedaan persepsi, namun mereka dapat memahami mengapa perbedaan itu terjadi.

d. Tahap re-kreasi
Tahap ini merupakan kulminasi dari kegiatan pembelajaran kreatif dan produktif. Agar kulminasi tersebut benar-benar dirasakan oleh semua siswa, tips berikut dapat anda manfaatkan.
1) Adakan pengecekan sebelum tahap re-kreasi tiba, dengan cara menanyakan setiap kelompok apakah sudah siap dengan kreasinya.
2) Beri kesempatan kepada semua kelompok untuk menyajikan hasilnya dan beri kesempatan kepada semua siswa untuk menikmati kreasi dari setiap kelompok. Untuk keperluan ini, semua kelompok dapat memanjang hasilnya di dinding atau di meja, dan seluruh siswa diberi kesempatan untuk menikmati atau menelitinya.
3) Sesuai dengan waktu yang tersedia, berikan kesempatan kepada kelompok untuk mendemonstrasikan kreasinya, yang diikuti oleh tanggapan dari kelompok lain.
4) Berikan penguatan (seperti pujian atau tepukan tangan) kepada kelompok yang kreasinya istimewa.

3. Evaluasi
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam evaluasi, di antaranya melihat hasil belajar siswa, melakukan refleksi, membuat catatan-catatan selama pelaksanaan, bertanya langsung kepada siswa, dan barangkali menjaring pendapat siswa melalui angket.
a. Melihat hasil belajar siswa
Dengan melihat dan mengevaluasi hasil belajar siswa, kita dapat memperkirakan keberhasilan pembelajaran kreatif dan produktif yang sudah kita laksanakan. Dalam hal ini, kita dapat membandingkan hasil belajar tersebut dengan kriteria yang sudah kita tetapkan. Jika ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, kita dapat mencari penyebabnya, dengan berbagai cara, antara lain dengan melakukan refleksi.
b. Melakukan refleksi
Sebagaimana anda ketahui, refleksi merupakan satu cara yang cukup profesional dalam melihat kekuatan dan kelemahan dari pembelajaran yang kita kelola. Kita merenungkan kembali apa yang terjadi selama pembelajaran, mengapa hal itu terjadi, dan apa dampaknya bagi siswa. Misalnya hasil kreasi yang dipanjang siswa belum emnggambarkan pemahaman mereka sehingga kita merasa kecewa. Bahkan ada kelompok yang tidak menghasilkan kreasi apa pun. Untuk mencari jawaban dari munculnya peristiwa tersebut dapat melakukan refleksi dengan mengajukan pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri.
1) Apakah saya sudah menjelaskan apa yang harus dibuat oleh kelompok sebagai hasil akhir dari kegiatan ini?
2) Apakah saya sudah memberi contoh tentang hasil yang diharapkan?
3) Apakah ada yang bertanya ketika penjelasan itu saya berikan?
4) Apakah waktu yang diberikan kepada kelompok memadai untuk mengerjakan tugas tersebut?
c. Membuat catatan pelaksanaan
Kebiasaan membuat catatan setiap selesai pembelajaran atau bahkan selama pembelajaran berlangsung merupakan kebiasaan yang sangat baik yang akan membuahkan dokumen yang sangat berharga dalam melihat kekuatan dan kelemahan pembelajaran yang kita kelola. Catatan tersebut dapat berupa: pemanfaatan waktu (waktu kurang, lebih atau waktu terbuang percuma), pertanyaan yang muncul berkali-kali, perilaku siswa yang menyebabkan konsentrasi terganggu, konsep yang susah dipahami oleh siswa atau hal-hal lain yang dipandang penting oleh guru.
d. Bertanya kepada siswa
Siswa merupakan fokus pembelajaran, artinya kepuasan siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan merupakan salah satu tolak ukur pentingnya keberhasilan pembelajaran. Untuk mengetahui hal ini, guru perlu mengetahui persepsi siswa tentang pembelajaran yang dihayatinya. Persepsi siswa dapat diketahui dengan bertanya langsung yang dijawab secara lisan atau meminta siswa mengisi angket. Hal-hal yang ditanyakan dapat beragam, khususnya yang menyangkut kepuasan siswa. Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat anda sajikan, baik secara lisan maupun tertulis dalam bentuk angket.
1) Apakah siswa merasa bosan atau tertantang mengikuti pembelajaran?
2) Apakah siswa merasa mendapat kesempatan berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahap pembelajaran?
3) Apakah ada siswa yang mendominasi kelompok?
4) Bagaimana pendapat siswa mengenai manfaat kegiatan pembelajaran?
5) Apakah siswa puas terhadap hasil yang dicapai dalam kegiatan?
6) Anda dapat menambahkan pertanyaan lain dan mengemasnya dalam angket yang dapat dijawab dengan mudah oleh siswa.

E. Kekuatan dan Kelemahan Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif
Karakteristik model pembelajaran kreatif dan produktif ini yang mencerminkan kekuatannya sebagai kelompok model yang berfokus pada kebutuhan siswa, sesuai dengan paradigma “student centered learning”.
1) Dalam setiap tahap kegiatan, siswa terlibat secara aktif, baik intelektual maupun emosional.
2) Di samping mencapai dampak intruksional, perstrukturan kegiatan dalam model ini memungkinkan terbentuknya dampak pengiring.
3) Melalui tahap-tahap kegiatan dalam model pembelajaran kreatif dan produktif ini, siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan sumber belajar sehingga kesempatan untuk membentuk pengetahuan sendiri terbuka lebar.
4) Melalui kegiatan re-kreasi, kreativitas terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
5) Penilaian proses dan hasil belajar yang dilakukan sepanjang kegiatan memungkinkan dilakukannya penilaian secara utuh dan komprehensif, di samping siswa mendapat kesempatan untuk menampilkan pemahamnanya dalam berbagai bentuk.
Namun, model pembelajaran kreatif dan produktif ini juga tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang dimilikinya. Kelemahan tersebut, antara lain terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam model pembelajaran seperti ini karena memang sangar berbeda dari pembelajaran tradisional. Guru yang terbiasa menyampaikan semua materi melalui ceramah, mungkin memerlukan waktu untuk dapat secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Siswa juga yang terbiasa mendengarkan penjelasan yang diberikan guru harus mengubah kebiasaan tersebut menjadi aktif mencari sendiri sumber belajar yang dibutuhkan. Ketidaksiapan guru untuk mengelola pembelajaran seperti ini dapat diatasi dengan pelatihan, kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobakannya. Sementara itu, ketidaksiapan siswa dapat diatasi dengan menyediakan panduan yang antara lain memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan. Kendala lain adalah waktu. Model pembelajaran ini memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel meskipun untuk topik-topik tertentu, waktu yang diperlukan mungkin cukup 2 kali pertemuan ditambah dengan kegiatan di luar jam pelajaran yang terjadwal.
Jika dicermati, kelemahan yang telah diuraikan sebenarnya bukan merupakan kelemahan model pembelajaran kreatif dan produktif, tetapi telah mengacu kepada ketidaksiapan lapangan. Pada dasarnya, model ini tidak memiliki kelemahan, hanya saja kelemahan itu baru muncul ketika model ini diterapkan. Dengan demikian sebagai seorang guru, harus berusaha untuk mengurangi bahkan meniadakan kelemahan tersebut. Terlepas dari kelemahan, model pembelajaran kreatif dan produktif ini mempunyai kekuatan, seperti yang telah dideskripsikan pada uraian sebelumnya. Jika kelemahan dapat diminimalkan maka kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat memacu kreativitas, sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, sangat diharapkan, Anda akan menjadi pelopor dalam mencoba menerapkan model pemebelajaran kreatif dan produktif ini sesuai dengan bidang studi atau mata pelajaran yang anda ajarkan, bahkan tidak mustahil dari model pembelajaran kreatif dan produktif ini, Anda dapat mengembangkan model lain yang lebih menjanjikan.

A.      Pendahuluan

1.        Latar Belakang

Tingkat korupsi suatu negara dapat diukur dari Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Data tahun 2009 menunjukan bahwa Indonesia berada pada papan bawah dengan dengan Indek Persepsi Korupsi (IPK) 2,8. Skala IPK mulai dari 1 sampai 10, semakin besar nilai IPK suatu negara maka semakin bersih negara tersebut dari tindakan korupsi. Dari data yang diperoleh dari Transparency International Corruption Perception Index 2009 tersebut, IPK Indonesia sama dengan negara lainnya pada urutan 111 seperti Algeria, Djibouti, Egypt, Kiribati, Mali, Sao Tome and Principe, Solomon Islands dan Togo. Angka ini menyimpulkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang belum lepas dari persoalan korupsi (Devanda, 2010).

Maraknya pemberitaan media mengenai korupsi sudah berlangsung lebih dari 10 tahun praktis dengan tiada henti-hentinya, beberapa contoh pemberitaan mengenai korupsi yang kini paling sering muncul salah satu diantaranya mengenai salah satu pejabat pajak. Pemberitaan ini telah banyak menyulut kontroversi dan gerakan anti-Gayus di kalangan masyarakat, sebagai salah satu wujud protes atas tindakan korupsi yang telah menjadi semacam kebiasaan di negeri ini. Pemberantasan korupsi di Indonesia oleh lembaga pemerintah saat ini dilakukan oleh beberapa institusi, antara lain Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi), Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian, Kejaksaan dan BPKP, dan melalui lembaga non-pemerintah, misalnya media massa dan organisasi massa. Namun, mengingat begitu beratnya tugas lembaga-lembaga tersebut dan besarnya akibat yang disebabkan oleh kasus korupsi tersebut, maka diperlukan suatu sistem yang mampu menyadarkan semua elemen bangsa untuk sama-sama bergerak mengikis karang korupsi yang telah merajalela.

Salah satu cara yang paling efektif dalam pemberantasn korupsi adalah melalui pendidikan. Untuk menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang bersih, diperlukan sebuah sistem pendidikan anti korupsi yang berisi tentang sosialisasi bentuk-bentuk korupsi, cara pencegahan dan pelaporan serta pengawasan terhadap tindak pidana korupsi. Pendidikan seperti ini harus ditanamkan secara terpadu mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan anti korupsi ini akan berpengaruh pada perkembangan psikologis siswa.

Pendidikan Anti Korupsi tidak perlu diimplementasikan ke dalam mata pelajaran tersendiri, karena dapat diintegrasikan dalam pelajaran. Namun, selama ini, pendidikan anti korupsi baru dapat diimplementasikan ke dalam pelajaran-pelajaran sosial, salah satunya PPKn. Sebagaimana diungkapkan oleh Fajar (2009),  “Implementasi pembelajaran pendidikan antikorupsi (PAK) yang akan diselipkan dalam mata pelajaran kewarganegaraan.” Hal yang belum diperhatikan adalah bahwa pembelajaran anti korupsi juga dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran sains, khusunya Fisika. Karena, Fisika bukan sekedar pelajaran teori, namun mengandung nilai filosofis yang jika diintegrasikan dalam pembelajaran dapat mempengaruhi kognitif siswa, dan menjadi pembelajaran yang lebih bermakna. Perubahan pola pikir akan mempengaruhi tingkah laku. Hal ini yang serupa diungkapkan oleh Aswandi (2009), “Pikiran-pikiran yang lahir dari otak mengendalikan dan menentukan hampir semua yang terjadi pada diri seseorang. … Dengan mengubah aspek dalam fikirannya, manusia bisa mengubah aspek luar kehidupan mereka.”

Melalui pendidikan ini, diharapkan semangat anti korupsi akan mengalir di dalam darah setiap generasi dan tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Sehingga, pekerjaan membangun bangsa yang terseok-seok karena adanya korupsi dimasa depan tidak ada terjadi lagi. Jika korupsi sudah diminimalisir, maka setiap pekerjaan membangun bangsa akan maksimal.

 

2.    Tujuan dan Manfaat

a.       Tujuan

1)   Untuk menanamkan semangat anti korupsi pada setiap anak bangsa.

2)   Memberikan pembelajaran Fisika yang lebih bermakna, dan berguna dalam kehidupan sosialnya.

b.      Manfaat

1)   Bagi Tenaga pendidik dan kependidikan dapat dijadikan referensi membelajarkan sikap anti korupsi melalui pembelajaran Fisika

2)   Bagi siswa dapat memperoleh pembelajaran Fisika yang penuh makna dan memperoleh pendidikan anti korupsi yang akan berguna bagi kehidupan masa depannya.

B.       Gagasan

Tindak pidana korupsi selalu mengiringi perjalanan kekuasaan dan sebaliknya kekuasaan merupakan “pintu masuk” bagi tindak korupsi. Inilah hakikat dari pernyataan Lord Acton, guru besar sejarah modern di Universitas Cambridge, Inggris, yang hidup di abad ke-19. Dengan adagium-nya yang terkenal ia menyatakan: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely”, yang artinya kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut (H.M. Arsyad Sanusi, 2009).

Sukasah Syahdan (2007) dalam tulisan eseinya tentang korupsi menjelaskan bahwa tindak korupsi adalah tindakan rasional, disengaja dan bertujuan. Mohamad Hatta (dalam Ravie Ramadhan, 2010) lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit sosial yang membudaya di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Korupsi bukan semata milik strata atas dalam jajaran pemerintahan dan sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas sebab sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak dan mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Beberapa penelitian menunjukkan betapa terpuruknya citra bangsa ini. Peringkat citra “negara (ter)korup” nyaris selalu melekat sepanjang tahun (H.M. Arsyad Sanusi, 2009).

Singkatnya, korupsi bisa terjadi di negara mana saja, baik di negara-negara miskin, negara berkembang, maupun negara maju. Ulul Albab (2009) mengatakan bahwa korupsi juga terjadi baik di negara yang sistem pemerintahannya demokratis maupun yang otoriter. Begitu banyak studi dan bahasan tentang korupsi yang dilakukan oleh beberapa disiplin ilmu, maka literatur yang membahas tentang korupsi sangat banyak, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Misalnya, “Corruption and Reform”, “Crime, Law and Social Change”, “Indian Journal of Public Administration”, “Journal of Law and Society” serta masih banyak lagi yang lainnya.

Setiap pemerintahan baru selalu berjanji akan memberantas korupsi. Akan tetapi, setelah kekuasaan itu berjalan, korupsi tidak juga berkurang, bahkan ada kecenderungan terjadi peningkatan. Berikut perkembangan upaya pemberantasan korupsi “gaya normatif” dari waktu ke waktu, yaitu:

  1. 1.      Era Orde Lama

Pada era ini, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, tercatat sudah dua kali dibentuk Badan Pemberantasan Korupsi, namun ternyata pemerintah pada waktu itu setengah hati menjalankannya. Adapun perangkat hukum yang digunakan adalah Undang-undang Keadaan Bahaya dengan produknya yang diberi nama Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara).

  1. 2.      Era Orde Baru

Pada pidato kenegaraan, Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pj Presiden, di depan anggota MPRS menjelang Hari Kemerdekaan RI tangal 16 Agustus 1967, menyalahkan rezim orde lama yang tidak mampu memberantas korupsi, sehingga segala kebijakan ekonomi dan politik berpusat di Istana. Pidato itu memberi isyarat bahwa Soeharto bertekad untuk membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya. Sebagai wujud dari tekad itu tak lama kemudian dibentuklah Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) yang diketuai Jaksa Agung.

  1. 3.      Era Pasca Orde Baru

Presiden BJ Habibie mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru seperti KPKPN, KPPU atau lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK).

 

Selain upaya pemberantasan korupsi di atas, ada pula pemberantasan korupsi model Shleifer dan Vishny dalam Corruption, Quarterly Journal of Economics (1993). Model yang ditawarkan Shleifer dan Vishny tergolong “aneh”, sebab beliau menawarkan pemberantarasan korupsi justru melalui “transaksi korup”. Pemberantasan korupsi model Shleifer dan Vishny ini mengasumsikan birokrat pemerintah menyajikan penawaran terbatas pada suatu rentang hak yang berguna (seperti bermacam lisensi yang dipersyaratkan untuk membangun suatu usaha). Kesimpulan dari model yang ditawarkan Shleifer dan Vishny ini sangat sederhana, yakni tidak serta merta dapat mengurangi angka korupsi secara drastis, namun setidaknya akan mampu membuat jera pelaku-pelaku korupsi dan pada akhirnya diharapkan akan mampu meminimalisir terjadinya korupsi.

Di samping itu, KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) sebagai lembaga pemberantasan korupsi, selain tugasnya memberantas korupsi di Indonesia juga memiliki berbagai program pencegahan tindakan korupsi. Salah satunya dengan memberikan pendidikan anti korupsi di lembaga penyelenggara pemerintahan, kemasyarakatan, dan sekolah-sekolah, mengajak para praktisi pendidikan untuk dapat menggelar pelatihan anti korupsi serta workshop gerakan anti korupsi bagi para guru.

Menurut Ryan Utama, Staf Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Borneo Tribune (17 Januari 2009), satu-satunya cara agar korupsi bisa diberantas, yaitu dengan menghilangkan mentalitas berprilaku korupsi di masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa pendidikan korupsi ini harus dilakukan mulai dari siswa SD sampai Mahasiswa, sebab mendidik merupakan suatu pekerjaan membentuk karakter yang dapat dilakukan sejak dini. Peserta didik sebagai agen-agen pelopor pemberantasan korupsi di masyarakat terutama di lingkungan sekolah. Para peserta didik ini diharapkan memiliki sensitifitas terhadap adanya indikasi korupsi yang sewaktu-waktu dapat terjadi di lingkungan sekolah. Pendidikan korupsi selain penting bagi peserta didik, juga dapat menilai pendidikan korupsi ini harus diberikan pada para guru di sekolah.

Menurut Aswandi (2009), perilaku korupsi merupakan perilaku kehilangan rasa malu. Untuk itu, mendidik rasa malu harus dilakukan sejak dini oleh keluarga, pemerintah dan masyarakat justru jauh lebih efektif dari pada menjadikan pendidikan anti korupsi sebagai mata pelajaran di sekolah. Pendidikan anti korupsi harus diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada dengan perbaikan strategi pembelajaran yang berdimensi pendidikan moral. Jika pendidikan anti korupsi dijadikan mata pelajaran, pasti akan ada penilaian angka 1 sampai 10 terhadap mata pelajaran anti korupsi. Apabila dalam praktiknya ada siswa yang mendapat nilai 10 dalam mata pelajaran anti korupsi. Kemudian suatu saat murid tersebut berprilaku korupsi. Hal ini akan menjadi tidak logis. Jelas, jika mereka telah dinyatakan lulus dari pendidikan non formal anti korupsi tersebut, apakah sertifikat atau ijazah yang dimilikinya dapat dijadikan bukti formal bahwa mereka menjadi pemimpin yang tidak korupsi.

Erry Riyana, Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada seminar “Menciptakan Generasi Anti Korupsi” dalam rangka Dies Natalis Fakultas llmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menilai pembentukan kurikulum antikorupsi yang direncanakan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) adalah mubazir. Kurikulum bisa jadi membebani siswa atau mahasiswa. Terlebih kurikulum yang ada saat ini sudah sangat berat bagi para peserta didik.

Sementara itu, pakar ilmu pemerintahan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dede Mariana mengatakan, pemerintah harus memiliki kemauan dan terobosan dalam menciptakan generasi yang pada saatnya kelak memiliki budaya antikorupsi. Dalam hal ini, diperlukan pemikiran seragam satu generasi bahwa korupsi adalah perbuatan hina, tercela, dan kejam. Oleh karena itu, harus ada pendidikan anti korupsi yang formal di tiap tingkatan pendidikan, namun perlu perencanaan yang matang sebelum diimplementasikan. Pendidikan antikorupsi tidak akan efektif jika dilakukan sistem yang sudah terkontaminasi budaya korupsi.

Pendidikan sebagai tugas imperatif manusia selalu membawa implikasi individual dan sosial. Secara individual, pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan potensi manusia, baik potensi jasmani, rohani, maupun akal. Pendidikan yang baik pastilah bisa mengembangkan potensi manusia tersebut secara bertahap menuju kebaikan dan kesempurnaan. The perfect man (insan kamil) merupakan manusia yang memiliki performance jasmani yang sehat dan kuat, otak yang cerdas dan pandai, serta kualitas spiritual yang baik (Ahmad Tafsir, 1992). Secara sosial, pendidikan merupakan proses pewarisan kebudayaan. Kebudayaan yang berupa nilai-nilai, perilaku dan teknologi yang telah dimiliki generasi tua, diharapkan dapat diwariskan kepada generasi muda agar kebudayaan masyarakat senantiasa terpelihara dan berkembang.

Dalam konteks pendidikan antikorupsi, proses pendidikan mestinya bersifat sistematis dan massif. Cara sistematis yang bisa ditempuh adalah dengan melaksanakan pendidikan antikorupsi secara intensif. Sumiarti (2007) menegaskan bahwa pendidikan antikorupsi bisa digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tidak mudah menyerah demi kebaikan. Pendidikan antikorupsi menjadi sarana sadar untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi.

Pendidikan antikorupsi merupakan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi korupsi berupa keseluruhan upaya untuk mendorong generasi mendatang untuk mengembangkan sikap menolak secara tegas terhadap setiap bentuk korupsi. Mentalitas antikorupsi ini akan terwujud jika kita secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk mampu mengidentifkasi berbagai kelemahan dari sistem nilai yang mereka warisi dan memperbaharui sistem nilai warisan dengan situasi-situasi yang baru. Dalam konteks pendidikan, “memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya” berarti melakukan rangkaian usaha untuk melahirkan generasi yang tidak bersedia menerima dan memaafkan suatu perbuatan korupsi yang terjadi.

Menurut analisis penulis, menangani tindak pidana korupsi melalui pendidikan sangat diperlukan. Pendidikan yang menciptakan moralitas utama sebagai upaya penanaman pondasi moral bahwa korupsi itu adalah tindakan penyalahgunaan kekuasaan untuk memperoleh keuntungan pribadi yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Oleh karena itu, korupsi tidak hanya dianggap sebagai penghambat kegiatan ekonomi tetapi juga akan merusak bangunan moral kemasyarakatan, demokrasi dan tatanan kenegaraan. Untuk itu, pendidikan anti korupsi tidak menjadi mata pelajaran tersendiri tetapi diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran dengan berbagai strategi penerapannya. Pembelajaran antikorupsi yang dimaksudkan oleh penulis juga tidak harus memaparkan apa itu korupsi dan bagaimana contoh tindakan koruptif, tetapi mengajarkan dan mendidik nilai-nilai positif yaitu jujur, berani, peduli, sederhana, bertanggung jawab, adil, disiplin, dan gigih. Pada dasarnya, tujuan pendidikan antikorupsi ini diharapkan dapat menghasilkan duta anti korupsi yang bertugas memberikan pencerdasan bahaya korupsi di sekolah masing-masing, sehingga ke depannya para generasi muda tersebut akan menjadi pemimpin bangsa yang anti korupsi.

Fisika sebagai ilmu yang mempunyai nilai-nilai filosofis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran antikorupsi dapat pula diintegrasikan dalam mata pelajaran Fisika, misalnya termodinamika, usaha dan energi, hukum II Newton, hukum kekekalan momentum, hukum kekekalan energi mekanik, persamaan Bernoulli, hukum I Kirchoff, dan persamaan Snellius.

Termodinamika sebagai cabang fisika yang mempelajari tentang perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lain, terutama perubahan dari energi panas ke dalam bentuk energi lain dapat memberikan contoh praktik gerakan antikorupsi, misalnya Proses Adiabatik: , artinya perubahan energi dalam sistem akan bertambah ketika sistem menerima usaha/kerja, sehingga usahanya bernilai negatif (Young & Freedman. 1999). Ini dapat dianalogikan, kenaikan jabatan dalam instansi pemerintah atau swasta berbanding lurus dengan usaha/kerja negatif yang dilakukan yakni korupsi. Semakin tinggi jabatan, maka semakin ada peluang untuk melakukan usaha/kerja negatif (korupsi). Selain itu, Asas Black:  , artinya energi yang dilepaskan suatu benda tidak akan hilang, tetapi diterima oleh benda lain dalam jumlah yang sama (Young & Freedman. 1999). Ini dapat dianalogikan dalam pembelajaran bahwa jumlah uang  yang diberikan kepada seseorang sebagai perantara dapat disampaikan ke penerima uang tersebut dalam jumlah yang sama.

Dalam Fisika usaha didefinisikan sebagai perkalian antara besar gaya yang menyebabkan benda berpindah dengan besar perpindahan benda yang searah dengan arah gaya itu (Young & Freedman. 1999). Secara umum dirumuskan bahwa W = F . s, dengan W (work) sebagai dampak, F (force) sebagai kekuasaan dan s (perpindahan) sebagai perilaku. Usaha ada yang bernilai positif dan negatif. Adapun usaha yang bernilai positif apabila gaya yang dilakukan searah dengan perpindahan, sedangkan usaha bernilai negatif apabila gaya diberikan berlawanan arah dengan perpindahan atau sebaliknya. Usaha bernilai negatif dapat dianalogikan apabila seseorang memiliki kekuasaan seseorang dalam suatu jabatan tertentu dan dalam jabatan tersebut dia melakukan perilaku yang negatif salah satunya perilaku korupsi, maka dampak yang ditimbulkan akan berbanding lurus dengan kekuasaan dan tingkat perilaku negatifnya.

Dalam hukum II Newton menjelaskan tentang dinamika partikel yaitu ilmu yang mempelajari tentang gerak benda dan penyebabnya (Young & Freedman. 1999). Pada hukum II Newton menyebutkan bahwa besarnya gaya yang bekerja pada benda berbanding lurus dengan massa dan percepatannya yang dirumuskan F = m.a, dengan F (force) adalah gaya yang dianalogikan sebagai kekuasaan, m (mass) adalah massa yang dianalogikan sebagai money (uang), dan a (acceleration) adalah percepatan yang dianalogikan sebagai attitude (sikap). Dalam hal ini, kita mendeskripsikan bahwa force (kekuasaan) yang kita miliki harus dapat mengelola harta/keuangan (money) yang dititipkan kepada kita dengan gaya yang searah dengan budi pekerti/akhlak yang baik, sehingga praktiknya diharapkan kita tidak melakukan penyimpangan terhadap money (uang) tersebut yang tidak searah dengan attitude (budi bekerti/akhlak).

Pada persamaan Bernoulli, yaitu

atau dimana pada persamaan Bernoulli ini digunakan untuk aliran tunak tidak kental yang tidak termampatkan (Halliday,1977); hukum kekekalan energi mekanik yaitu jika pada suatu sistem hanya bekerja gaya-gaya dalam yang bersifat konservatif (tidak bekerja gaya luar dan gaya dalam tak konservatif), energi mekanik sistem pada posisi apa saja selalu tetap (kekal). Artinya, energi mekanik sistem pada posisi akhir sama dengan energi mekanik sistem pada posisi awal (Young & Freedman,1999);  hukum kekekalan momentum linear yang dinyatakan bahwa momentum total sistem sesaat sebelum tumbukan sama dengan momentum total sistem sesaat sesudah tumbukan, asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem (Young & Freedman,1999); hukum I Kirchoff merupakan hukum kekekalan muatan yang menyatakan bahwa jumlah muatan yang mengalir tidak berubah, artinya laju muatan (kuat arus) yang menuju titik cabang sama besarnya dengan laju muatan (kuat arus) yang meninggalkan titik cabang (Young & Freedman. 1999); dan persamaan Snellius tentang pembiasan untuk dua medium, yaitu , dimana  adalah indeks bias medium 1 dan  adalah indeks bias medium 2 (Young & Freedman. 1999). Beberapa materi Fisika yang telah dijabarkan tersebut dapat juga dianalogikan dalam pembelajaran bahwa jumlah uang yang diberikan kepada seseorang sebagai perantara dapat disampaikan ke penerima uang tersebut dalam jumlah yang sama atau analogi lainnya terkait pembelajaran antikorupsi dalam Fisika.

Optimalisasi nilai-nilai antikorupsi ke dalam budaya edukatif seperti contoh di atas sangat urgen untuk mengatasi korupsi di Indonesia. Pembentukan budaya tersebut tentu harus dilakukan secara bersama-sama oleh semua unsur yang berada dalam komunitas edukatif. Dalam prosesnya peserta didik harus di dorong agar mampu membebaskan dirinya dari sikap tidak rasional yang menundukkan dirinya secara absolut pada kepentingan kekuasaan yang tidak amanah dan istiqomah. Selain itu, gerakan antikorupsi dapat di mulai dari lingkungan sendiri dengan menerapkan langkah-langkah taktis dan strategis yang bersifat antisipatif.

Adapun langkah strategis yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan mengimplementasikan nilai-nilai filosofis antikorupsi yang terkandung pada materi-materi Fisika di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Fisika.  Dengan demikian, pendidikan antikorupsi melalui pembelajaran Fiska merupakan sebuah solusi efektif dalam meminimalisir  problema dekadensi korupsi yang marak dewasa ini dan diharapkan menjadi sebuah inovasi untuk mengembalikan “roh” pendidikan yang  mengalami distorsi dan menciptakan insan akademis yang cerdas intelektual, emosional, spritual, membangun karakter peserta didik yang berintegritas serta kuat yang menjadi modal peradaban bangsa yang unggul ke depannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran kolektif dan gerakan nasional serempak, agar spirit pendidikan yang selama ini terserabut bisa diutuhkan kembali. Rekonstruksi kurikulum nasional, optimalisasi nilai-nilai antikorupsi dalam komunitas pendidikan dapat terwujud jika pemerintah dan seluruh komunitas pendidikan mau menjadi sosok terdepan, bersatu-padu dan berpartisipasi aktif mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.

 

C.    Simpulan

Korupsi telah bekerja secara sistematis, terstruktur, dan merusak berbagai sendi kehidupan masyarakat termasuk kecerdasan emosional dan spiritual rakyat, bahkan menghancurkan human dan social capital bangsa. Perlawanan atas korupsi dapat dilakukan dengan berbagai upaya legal, sosial serta dapat dilakukan dari titik manapun. Dasar dari konsekwensi ini adalah alasan pertarungan melawan korupsi harus diletakkan pada arah dan bagian dari gerakan sosial antikorupsi, dimana proses pendidikan sebagai agen pembiasaan, pembelajaran dan peneladanan menjadi bagian terpenting dari gerakan sosial yang dimaksud.

Pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam hidupnya sekarang dan atau yang akan datang. Dalam praktiknya, kurikulum sebagai perangkat mata pelajaran dan guru selaku manajer kegiatan pembelajaran (instructional manager) sangat berperan dalam mengarahkan pendidikan menuju arah/tujuan yang dimaksud. Oleh karena itu, dirasakan penting jika pendidikan sebagai gerakan antikorupsi, khususnya dalam pembelajaran sains.

Penanaman nilai-nilai antikorupsi tidaklah diajarkan dalam satu bentuk mata pelajaran khusus, tetapi dapat diintegrasikan dalam materi ajar. Pembelajaran antikorupsi yang dimaksudkan adalah tidak harus memaparkan apa itu korupsi dan bagaimana contoh tindakan koruptif, tetapi mengajarkan dan mendidik nilai-nilai positif yaitu jujur, berani, peduli, sederhana, bertanggung jawab, adil, disiplin, dan gigih.

Fisika adalah salah satu cabang ilmu sains yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. Pada ilmu Fisika terdapat hukum-hukum, asas dan persamaan-persamaan yang dapat digunakan untuk menjelaskan suatu sebab dan akibat yang terjadi di alam. Hukum, asas dan persamaan tersebut berlaku universal, sehingga dalam sains terdapat suatu keteraturan yang mengatur fenomena alam. Keteraturan-keteraturan inilah yang menjadi nilai filosofis, bahwa segala sesuatu di alam diciptakan secara teratur dan seimbang. Apabila keseimbangannya terganggu, maka dapat menyebabkan kerusakan/dampak ke sistem lainnya. Keseimbangan-keseimbangan tersebut banyak ditemui misalnya dalam Azas Black, Persamaan Bernoulli, Persamaan Snellius, Hukum Pascal, hukum kekekalan energi mekanik, hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan momentum sudut hingga ke persamaan reaksi inti. Nilai-nilai filosofis tentang keseimbangan inilah yang harus dibelajarkan kepada siswa, apabila keseimbangan terganggu maka akan ada dampak yang terjadi yang dapat merugikan kehidupan di alam. Melalui filosofi keseimbangan alam siswa dibelajarkan bahwa di alam tidak terdapat perilaku korupsi. Nilai inilah yang selanjutnya diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosialnya kelak. Oleh karena itu, pembelajaran antikorupsi dapat pula diintegrasikan dalam mata pelajaran Fisika, misalnya termodinamika, hukum kekekalan momentum, hukum kekekalan energi mekanik, hukum pascal, hukum I Kirchoff, dan persamaan Snellius.

Pada dasarnya, tujuan pembelajaran antikorupsi ini diharapkan dapat menghasilkan duta anti korupsi yang bertugas memberikan pencerdasan bahaya korupsi di sekolah masing-masing, sehingga ke depannya para generasi muda tersebut akan menjadi pemimpin bangsa yang anti korupsi. Selain itu, pembelajaran antikorupsi melalui sains ini merupakan sebuah solusi efektif dalam meminimalisir  problema dekadensi korupsi yang marak dewasa ini dan diharapkan menjadi sebuah inovasi untuk mengembalikan “ruh” pendidikan yang  mengalami distorsi dan menciptakan insan akademis yang cerdas intelektual, emosional, spritual, membangun karakter peserta didik yang berintegritas serta kuat yang menjadi modal peradaban bangsa yang unggul ke depannya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

_______    _. 2010. Korupsi. http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi. Diakses pada tanggal 20 Januari 2011

_______. 2011. Korupsi di Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi_di_Indonesia. Diakses pada tanggal 20 Januari 2011

Albab, Ulul. 2009. A to Z Korupsi: Menumbuhkembangkan Spirit Antikorupsi, , Cetakan Pertama. Jaringpena: Surabaya.

Andi, Nur Tata. 2009. Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini. Borneo Tribune:Pontianak

Aswandi. 2009. Pendidikan Anti Korupsi. PII & LSM-LSC: Pontianak. Hlm 12.

Devanda, Berry. 2010. Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi. http://www.berrydevanda.com/2010/02/kurikulum-pendidikan-anti-korupsi.html Diakses pada tanggal 20 Januari 2011

Fajar, Arnie. 2009. Pembelajaran Anti Korupsi Tuntut Kreatifitas Guru. http://fikirjernih.blogspot.com/2009/10/pembelajaran-anti-korupsi-tuntut.html. Diakses pada tanggal 20 Januari 2011

Gemari Edisi 97/Tahun Gemari X/Pebruari 2009 hlm 59. Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini

Mochtar Buchori, “Pendidikan Antikorupsi”, dalam artikel di Kompas, 21 Februari 2007

Nye, J.S., 1967. American Political Science Review, Vol LXI, No. 2.

Pramusinto, Agus. 2000. Paradoks-paradoks pemberantasan korupsi.  Perencanaan pembangunan .Jakarta

Resnick, Halliday. 1977. Fisika jilid 1 edisi ketiga. Jakarta: Erlangga. Hlm. 586.

Sanusi, M. Arsyad. 2009. Relasi Antara Korupsi Dan Kekuasaan. Jurnal Konstitusi, Volume 6, Nomor 2, Juli 2009. Hlm 83,90.

Seputar Indonesia. 2010. Kurikulum Antikorupsi Mubazir. hlm 5 kolom 2 kamis 30 september 2010

Shleifer, A. and Vishny, R.W. 1993 , “Corruption”, Quarterly Journal of Economics Vol 108 No 3.

Sugita, M Basuk. 2010.  Pendidikan Antikorupsi.  http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/1684695-pendidikan-antikorupsi/ Diakses pada tanggal 20 Januari 2011

Sumiarti. 2007. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan  Insania.Vol. 12 No. 2. 1 Mei-Ags 2007. Hlm. 189-207

Syahdan, Sukasah. 2007.  Esei Tentang Korupsi. Volume I Edisi no. 1, 27 Maret 2007. Hlm. 1.

Young & Freedman. 1999. Fisika Universitas edisi kesepuluh jilid I. Jakarta: Erlangga. Hlm. 99, 164, 211, 232.

Young & Freedman. 1999. Fisika Universitas edisi kesepuluh jilid II. Jakarta: Erlangga. Hlm. 266, 499,532,544.

Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm. 41-45

Yudhoyono, Susilo Bambang. 2010. Lima Isu Penting Pendidikan. MajalahKampus No.5/Vol.1/Juni 2010